Beranda » Uncategorized » HUBUNGAN DAN PROSES KONSELING

HUBUNGAN DAN PROSES KONSELING

Archives

Categories

Calendar

Agustus 2015
S S R K J S M
« Mar    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 204,021 hits

A. MAKNA HUBUNGAN KONSELING

Hubungan konseling ialah hubungan yang membantu, artinya pembimbing berusaha membantu si terbimbing agar tumbuh, berkembang, sejahtera dan mandiri.
Shertzer dan Stone (1980) mendefinisikan hubungan konseling yaitu interaksi antar seseorang dengan orang lain yang dapat menunjang dan memudahkan secara positif bagi perbaikan tersebut.
Rogers mendefinisikan hubungan konseling sebagai hubungan seseorang dengan orang lain yang datang dengan maksud tertentu.
Benjamin, dalam Sertzer & Stone (1980) mengartikan hubungan konseling yaitu interaksi antara seseorang yang profesional dengan klien dengan syarat bahwa profesional itu mempunyai waktu, kemampuan untuk memahami dan mendengarkan, serta mempunyai minat, pengetahuan dan keterampilan.
Tujuan utama konseling adalah untuk memudahkan perkembangan individu.

B. HUBUNGAN KONSELING DAN AGAMA

Hubungan konseling hanya mencakup aspek psikologis, filosofis dan keterampilan teknis, dan bidang agama jarang masuk kedalamnya. Agama amat menyentuh iman, taqwa dan akhlak. Jika iman kuat, maka ibadah akan lancar termasuk berbuat baik terhadap sesama manusia, karena telah terbentuk akhlak yang mulia. Dengan kata lain, kuatnya iman, lancarnya ibadah serta baiknya akhlak akan memudahkan sesorang untuk mengendalikan diri dan beramal untuk masyarakat dan alam sekitarnya.
 Karekteristik hubungan konselor dengan klien
 Hubungan konseling itu sifatnya bermakna, maknanya adalah bahwa hubungan konseling mengandung harapan bagi klien dan konselor. Juga memiliki tujuan yang jauh yaitu tercapainya perkembangan klien.
 Bersifat Afek, adalah perilaku-perilaku emosional, sikap dan kecenderungan-kecenderungan yang didorong oleh emosi, dimana sifat ini hadir karena dalam hubungan konseling terdapat keterbukaan diri dari klien dan kesensitifan satu sama lain.
 Integrasi pribadi
 Persetujuan bersama, hubungan konseling itu terjadi atas persetujuan bersama. Jika tanpa komitmen bersama, maka konseling akan dirasakan sebagai paksaan oleh klien.
 Kebutuhan, hubungan dan proses konseling akan berhasil mencapai tujuan bila klien datang meminta bantuan atas dasar kebutuhannya.
 Struktur, dalam proses konseling terdapat struktur karena adanya keterlibatan konselor dengan klien.
 Kerjasama, amat diperlukan karena akan mempercepat tujuan konseling.
 Konselor mudah didekati, klien merasa aman.
 Perubahan, tujuan hubungan konseling adalah perubahan positif yang terjadi pada diri klien.

C. MENGEMBANGKAN HUBUNGAN KONSELING

Mengembangkan hubungan konseling adalah upaya konselor untuk meningkatkan keterlibatan dan keterbukaan klien, sehingga akan memperlancar proses konseling dan segera mencapai tujuan konseling yang diinginkan klien atas bantuan konselor. Bentuk utama hubungan ini adalah pertemuan pribadi dengan pribadi yang dilatarbelakangi oleh lingkungan.
Dalam hubungan konseling pada prinsipnya ditekankan bagaimana konselor mengembangkan hubungan konseling yang rapport dan dengan memanfaatkan komunikasi verbal dan nonverbal. Jadi, konseling bukan menomorsatukan masalah klien. Hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor adalah penting sehingga klien akan terbuka dan mau terlibat pembicaraan.

D. MENCIPTAKAN RAPPORT

Rapport adalah hubungan yang ditandai dengan keharmonisan, kesuaian, kecocokan & saling tarik menarik. Rapport dimulai dengan persetujuan, kesejajaran, dan persamaan. Jika sudah terjadi persetujuan dan rasa persamaan, maka timbullah kesukaan terhadap satu sama lain.
Di dalam konseling, seorang konselor harus mampu menciptakan rapport, caranya adalah sebagai berikut ;
 Pribadi konselor harus empati, merasakan apa yang dirasakan klien. Dia juga harus terbuka, menerima tanpa syarat dan mempunyai rasa hormat serta menghargai.
 Konselor harus mampu membaca perilaku nonverbal klien, terutama yang berhubungan dengan bahasa lisannya.
 Adanya rasa kebersamaan, intim, akrab dan minat membantu tanpa pamrih yang artinya ada keikhlasan, kerelaan dan kejujuran pada diri konselor.

E. HUBUNGAN KONSELING DAN KETERLIBATAN KLIEN

Ada beberapa hal yang harus dipelihara dalam hubungan konseling, yaitu ;
1. Kehangatan, artinya konselor membuat situasi hubungan konseling itu demikian hangat dan bersemangat. Kehangatan disebabkan adanya rasa bersahabat, tidak forman, serta membangkitkan semangat dan rasa humor.
2. Hubungan yang empati, artinya konselor merasakan apa yang dirasakan klien dan memahami keadaan diri serta masalah yang dihadapinya.
3. Keterlibatan klien, klien terlihat bersungguh-sungguh mengikuti proses konseling dengan jujur mengemukakan persoalannya, perasaannya dan keinginannya, selanjutnya dia bersemangat mengemukakan ide alternatif dan upaya-upaya.

F. KONSELOR YANG RESISTENSI

Banyak faktor yang menyebabkan resistensi konselor, antara lain;
1. Kecemasan, mungkin dari kekalutan pikiran karena masalah keluarga, pekerjaan dan uang.
2. Konselor yang sedang mengalami frustasi dan konflik.
3. Konselor yang merangkap pejabat, biasanya pemerintah menasehati dan mengatur. Dia melihat hubungan konseling sebagai hubungan atasan dan bawahan.
Komunikasi konselor adalah kapasitas untuk mendengarkan, memberikan perhatian, merasa dan merespon dengan verbal dan nonverbal kepada klien, maka klien akan terbuka dan terlibat dalam pembicaraan, dan menampakkan pada klien bahwa konselor adalah menghampiri, mendengarkan dan merasakan secara akurat.

G. PROSES KONSELING

Menurut Brammer (1979) proses konseling adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi makna bagi para peserta konseling tersebut. Setiap tahapan proses konseling membutuhkan keterampilan-keterampilan khusus, namun keterampilan-keterampilan itu bukan hal yang utama jika hubungan konseling tidak mencapai rapport.
Secara umum, proses konseling dibagi atas 3 tahapan, yaitu;
1. Tahap awal konseling
 Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien
 Memperjelas dan mendefinisikan masalah
 Membuat penafsiran dan penjajakan
 Menegosiasikan kontrak
2. Tahap pertengahan konseling (tahap kerja)
Tujuan tahap ini ;
 Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah, isu dan kepedulian klien lebih jauh.
 Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara
 Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak
3. Tahap akhir konseling (tahap tindakan)
Ditandai dengan ;
 Menurunnya kecemasan klien.
 Adanya perubahan perilaku klien kearah yang lebih positif, sehat dan dinamik.
 Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.
 Terjadinya perubahan sikap positif.
Tujuan tahap ini adalah ;
 Memutuskan perubahan sikap dan perilaku yang memadai.
 Terjadinya transfer of learning pada diri klien.
 Melaksanakan perubahan perilaku.
 Mengakhiri hubungan konseling.
Indikator keberhasilan konseling ;
 Menurunnya kecemasan klien
 Mempunyai rencana hidup yang pragtis, pragmatis dan berguna
 Harus ada perjanjian kapan rencananya akan dilaksanakan, sehingga pada pertemuan berikutnya konselor sudah biasa mengecek hasil pelaksanaan rencananya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: