Beranda » Psikologi » Pengertian Optimisme

Pengertian Optimisme

Archives

Categories

Calendar

Januari 2013
S S R K J S M
« Apr   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 204,021 hits

1. Pengertian Optimisme

Siswa sebagai remaja dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa yang mandiri. Kehidupan dewasa berbeda dengan remaja. Untuk menjadi orang dewasa, diperlukan berbagai kesiapan. Salah satunya adalah kesiapan mental. Banyak sikap yang perlu dimiliki oleh orang dewasa. Salah satunya adalah optimisme.

Pengertian optimisme dalam kamus besar bahasa indonesia adalah keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menguntungkan. Orang yang memiliki sikap optimisme disebut orang optimis atau dapat diartikan orang yang selalu semangat berpengharapan baik.

Dalam kamus istilah konseling dan terapi, secara sosiologis optimisme menunjuk pada suatu sikap sosial dan pribadi pada sekelompok orang atau individu yang dicirikan keyakinan akan pentingnya usaha dalam mencapai hidup secara sempurna dan berkemajuan.

Dalam hidup, terdapat banyak kemelut dan masalah. Untuk bertahan hidup, seseorang harus dapat mengahadapi setiap masalah dan mencari jalan untuk keluar dari masalah tersebut. Dalam belajar, siswa diharapkan dapat menghadapi kesulitannya dalam hal belajar dan mencari jalan keluar yang tepat dari kesulitan yang dihadapinya. Duffy dkk (dalam Ghufron & Rini, 2010:96) berpendapat bahwa optimisme membuat individu mengetahui apa yang diinginkan. Individu tersebut dapat dengan cepat mengubah diri agar mudah menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi sehingga diri tidak menjadi kosong.

Perasaan optimis membawa individu pada tujuan yang diinginkan, yakni percaya pada diri dan kemampuan yang dimiliki. Siswa yang optimis siap memiliki prestasi yang tinggi, dan seseorang itu mampu memprediksi bahwa dengan kemampuan yang dimiliki cita-citanya akan tercapai. Seperti menurut Lopez & Snyder (dalam Ghufron & Rini, 2010:95), berpendapat Optimisme adalah suatu harapan yang ada pada individu bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju kearah kebaikan.

Goleman (dalam Ghufron & Rini, 2010:97) melihat optimisme melalui sudut pandang kecerdasan emosional, yakni suatu pertahanan diri pada seseorang agar jangan sampai terjatuh dalam masa kebodohan, putus asa, dan depresi bila menghadapi kesulitan. Lebih lanjut Scheir dan Carver (dalam Ghufron & Rini, 2010:96) menyatakan bahwa optimisme dapat dipastikan membawa individu kearah kebaikan kesehatan karena adanya keinginan untuk tetap menjadi orang yang ingin menghasilkan sesuatu (produktif) dan ini tetap dijadikan tujuan untuk berhasil mencapai yang diinginkan. Jadi, dapat dikatakan bahwa siswa yang optimis tidak mudah putus asa serta mampu bertahan dalam situasi sulit dalam bidang belajar. Siswa yang cerdas dan sehat emosinya cenderung merupakan siswa yang memiliki pribadi optimis dalam dirinya.

Berpikir positif adalah hal pokok yang dimiliki oleh orang yang optimis. Ketika berada dalam situasi yang sulit, orang optimis memandang bahwa kesulitan adalah batu pijakan untuk meraih hasil yang lebih baik. Orang optimis juga mampu mengukur kadar kemampuannya, dan memanfaatkan kemampuannya dengan maksimal untuk meraih apa yang dia inginkan. Ketika memiliki keinginan yang sulit dicapai, orang optimis tetap berusaha mencoba. Meski kemudian gagal, dia sudah cukup puas dengan usaha yang telah dilakukannya. Menurut Segerestrom (dalam Ghufron & Rini, 2010:95) Optimisme adalah cara berpikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah. Berpikir positif adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadaan terburuk.

Optimisme mendorong individu untuk selalu berpikir bahwa sesuatu yang terjadi adalah hal yang terbaik bagi dirinya. Seligman (dalam Ghufron & Rini, 2010:96) menyatakan :
Optimisme adalah suatu pandangan secara menyeluruh, melihat hal yang baik, berpikir positif dan mudah memberikan makna bagi diri. Individu yang optimis mampu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari yang telah lalu, tidak takut pada kegagalan, dan berusaha untuk tetap bangkit mencoba lagi bila kembali gagal.

Menurut Myers (dalam Ghufron & Rini, 2010:97) optimisme menunjukkan arah dan tujuan hidup yang positif, menyambut datangnya pagi dengan sukacita, membangkitkan kembali rasa percaya diri kearah yang lebih realistik, dan menghilangkan rasa takut yang selalu menyertai individu.

Menurut Ubaedy (2007:86), optimisme memiliki dua pengertian.
Pertama, optimisme merupakan doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Orang yang optimis adalah orang yang yakin (dengan alasan-alasan yang dimilikinya) bahwa ada kehidupan yang lebih bagus di hari esok.
Kedua, optimisme berarti kecendrungan batin untuk merencanakan aksi peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Optimisme berarti menjalankan apa yang kita yakini atau apa yang dibutuhkan oleh harapan kita.

Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa optimis berarti meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu digunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus. jika sudah yakin, namun tidak digunakan untuk melakukan aksi untuk membuktikan keyakinan itu, berarti optimisme masih kurang. Pada siswa, optimisme merupakan keyakinan dalam diri akan mampu mencapai hasil belajar yang baik, kemudian melakukan usaha untuk mendapatkan hasilnya.

Dari pengertian optimisme para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa optimisme dalam mencapai hasil belajar yang baik adalah suatu keyakinan untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik, pantang menyerah, serta berfikir positif dalam mengatasi kesulitan dalam proses belajar yang dihadapinya agar dapat sukses dalam mencapai tujuan yang diinginkan dalam pendidikannya.

2. Aspek-aspek Optimisme

Untuk mempermudah dalam mengidentifikasikan masalah optimisme, maka perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang aspek-aspek yang ada dalam optimisme.

Seligman (1991), mendeskripsikan individu-individu yang memiliki sifat optimisme akan terlihat pada aspek-aspek tertentu seperti dibawah ini.
1. Permanence yaitu membahas tentang bagaimana seseorang menyikapi kejadian-kejadian yang menimpanya apakah akan berlangsung lama atau sementara. Orang yang optimis yakin bahwa kejadian negatif yang menimpanya bersifat sementara, sedangkan kejadian positif yang menimpanya bersifat lama atau permanen.
2. Pervasiveness membahas tentang bagaimana seseorang memandang kegagalan dan kesuksesan yang terjadi pada dirinya, apakah ia berpandangan secara universal atau secara spesifik. Orang yang optimis yakin bahwa kegagalan yang terjadi karena sesuatu yang bersifat spesifik, sedangkan kesuksesan disebabkan oleh sesuatu yang bersifat universal.
3. Personalization membahas tentang bagaimana seseorang memandang kegagalan dan kesuksesan yang terjadi apakah karena faktor internal atau eksternal. Orang yang optimis yakin bahwa kesalahan itu dari faktor eksternal, dan kesuksesan berasal dari faktor internal.

Ketiga aspek optimisme diatas, menggambarkan masalah atau kejadian yang mungkin terjadi pada setiap orang. Seseorang mungkin mengalami kegagalan, tetapi ini bukan akhir dari orang optimis. Bagi orang optimis, kegagalan menjadi sesuatu kekuatan untuk dapat bangkit kembali dan terus berjuang untuk meraih kesuksesan.

Kesuksesan yang diraih oleh orang optimis itu disebabkan oleh pemikiran yang positif, usaha yang pantang menyerah dan rasa percaya diri dalam menghadapi setiap situasi yang terjadi pada dirinya. Berpikir positif, pantang menyerah dan rasa percaya diri ini disebabkan oleh keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri untuk dapat mengatasi hambatan yang terjadi. Oleh karena itu, orang optimis tahu akan kekurangan dirinya dan kelebihan yang dimilikinya dan dapat dengan cepat bangkit ketika mengalami masalah.

3. Ciri-ciri Orang Optimis

Orang yang optimis yakin dalam melakukan usaha, kemudian percaya diri bahwa usahanya akan mencapai hal yang diinginkannya. Berpikir positif adalah salah satu sikap yang dimiliki oleh orang yang optimis. Akan tetapi, orang optimis juga realistis, bahwa setelah usaha dengan maksimal namun sesuatu yang diinginkan belum tercapai mungkin ini adalah hal yang terbaik untuk dirinya.

Orang yang optimis siap menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupannya. Seperti pendapat Robinson dkk (dalam Ghufron & Rini, 2010:98) menyatakan
“Individu yang memiliki sikap optimis jarang menderita depresi dan lebih mudah mencapai kesuksesan dalam hidup, memiliki kepercayaan, dapat berubah ke arah yang lebih baik, adanya pemikiran dan kepercayaan mencapai sesuatu yang lebih dan selalu berjuang dengan kesadaran penuh”.

Orang yang optimis cenderung berpandangan positif termasuk dalam menilai suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Mc.Ginnis (dalam Ghufron & Rini, 2010:99) menyatakan
“Orang-orang optimis jarang merasa terkejut dan kesulitan. Mereka merasa yakin memiliki kekuatan untuk menghilangkan pemikiran negatif, berusaha meningkatkan kekuatan diri, menggunakan pemikiran yang inovatif untuk menggapai kesuksesan, dan berusaha gembira meskipun tidak dalam kondisi bahagia”.

Orang optimis yakin dengan kemampuan yang dimiliki diri serta senantiasa bersyukur terhadap sesuatu. Scheiver dan Carter (dalam Ghufron & Rini, 2010:99) menegaskan bahwa
“Individu yang optimis akan berusaha menggapai pengharapan dengan pemikiran yang positif, yakin dengan kelebihan yang dimiliki. Individu optimisme biasa bekerja keras mengahadapi stres dan tantangan sehari-hari secara efektif, berdoa, dan mengakui adanya faktor keberuntungan dan faktor lain yang mendukung keberhasilannya”.

Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang optimis memiliki ciri-ciri, yaitu: 1) siap menghadapi tantangan, 2) berpikir positif, 3) yakin dengan kemampuan yang dimiliki (percaya diri), serta 4) pandai bersyukur.

Menurut McGinnis (dalam setiyawati, 2009:11), menyebutkan bahwa optimisme memiliki 12 ciri khas, yaitu:
a. Optimis jarang merasa terkejut oleh kesulitan,
b. Optimis mencari pemecahan sebagian,
c. Optimis merasa yakin bahwa mereka mempunyai pengendalian atas masa depan mereka,
d. Optimis memungkinkan terjadinya pembaharuan secara teratur,
e. Optimis menghentikan alur pemikiran mereka yang negatif,
f. Optimis meningkatkan kekuatan apresiasi mereka,
g. Optimis menggunakan imajinasi mereka untuk melatih sukses,
h. Optimis selalu gembira bahkan ketika mereka tidak bisa merasa bahagia,
i. Optimis merasa yakin bahwa mereka memiliki kemampuan yang hampir tidak terbatas untuk diulur,
j. Optimis membina banyak cinta dalam kehidupan mereka,
k. Optimis suka bertukar berita baik,
l. Optimis menerima apa yang tidak dapat dirubah.

Dari dua belas ciri khas optimisme di atas, kita tahu bahwa dengan bersikap optimis seseorang dapat lebih menghargai dan meyakini kemampuan yang dimilikinya. Tidak hanya itu, seorang optimis lebih bahagia karena mereka dapat menerima dirinya secara menyeluruh. Setiap individu memiliki kekurangan dan kelebihan. Sikap individu terhadap dirinya itulah yang dapat membantu menciptakan individu yang optimis. Sikap optimis mungkin muncul jika individu itu memiliki keyakinan yang kuat atas dirinya. Keyakinan-keyakinan itu dapat muncul melalui pengalaman atau dipelajari.

Daftar pustaka :
Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawati S, Teori-Teori Psikologi. (Yogyakarta: Ar- Ruaa Media, 2010),


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: