Beranda » Sosial » Interaksi Sosial

Interaksi Sosial

Archives

Categories

Calendar

Januari 2013
S S R K J S M
« Apr   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 204,021 hits

1. Pengertian Interaksi Sosial
Ada beberapa pengertian interaksi sosial menurut para ahli yang akan dijelaskan sebagai berikut ;
Bonner (dalam Ahmadi, 2007:49) merumuskan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.
Pendapat Bonner diatas menjelaskan bahwa interaksi sosial memiliki dampak, dimana ketika individu berhubungan dengan orang lain akan ada tingkah laku individu yang berubah dan terpengaruh dari tingkah laku individu yang lainnya dan hal itu merupakan hasil dari sebuah proses interaksi sosial.
Newcomb (dalam Santoso, 2010:163) mengatakan bahwa interaksi sosial adalah peristiwa yang kompleks, termasuk tingkah laku yang berupa rangsangan dan reaksi keduanya, dan yang mungkin mempunyai satu arti sebagai rangsangan dan yang lain sebagai reaksi.
Grath (dalam Santoso, 2010:163) mengemukakan bahwa,
“interaksi sosial adalah suatu proses yang berhubungan dengan keseluruhan tingkah laku anggota-anggota kelompok kegiatan dalam hubungan dengan yang lain dan dalam hubungan dengan aspek-aspek keadaan lingkungan, selama kelompok tersebut dalam kegiatan.”

Sutherland (dalam Santoso, 2010:164) menyatakan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan yang mempunyai pengaruh secara dinamis antara individu dengan individu dan antara individu dengan kelompok dalam situasi sosial.
Sargent (dalam Santoso, 2010:164) mengatakan bahwa interaksi sosial dapat diterangkan sebagai suatu fungsi individu yang ikut berpartisipasi / ikut serta dalam situasi sosial yang mereka setujui.
Dari empat pendapat diatas maka dapat dilihat bahwa interaksi sosial diamati dari segi proses, dimana interaksi sosial merupakan hubungan yang terjadi dalam situasi sosial serta adanya aksi dan reaksi yang saling timbal balik dari individu yang ikut berpartisipasi dalam situasi sosial itu sehingga menimbulkan pengaruh dalam suatu kegiatan kelompok tersebut.
Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat meleburkan diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.
Seseorang atau kelompok sebenarnya tengah berusaha atau belajar bagaimana memahami tindakan sosial orang lain atau kelompok lain ketika berinteraksi. Sebuah interaksi sosial akan kacau bila antara pihak-pihak yang berinteraksi tidak saling memahami motivasi dan makna tindakan sosial yang mereka lakukan.
Agar interaksi sosial bisa berjalan dengan tertib, teratur dan agar anggota masyarakat bisa berfungsi dengan baik dalam interaksi sosialnya, maka yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk melihat secara objektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain.

2. Faktor – Faktor yang Mendasari Berlangsungnya Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat berlangsung karena beberapa faktor penting, seperti yang dikemukakan oleh Santoso (2010: 166) yang menyebutkan ada 4 faktor yang mendasari interaksi sosial, yaitu :
a) faktor imitasi
b) faktor sugesti
c) faktor identifikasi, dan
d) faktor simpati.

a) Imitasi
Faktor ini telah diuraikan oleh Tarde (dalam Santoso, 2010:166) yang beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya berdasarkan pada faktor imitasi saja. Peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak kecil, terbukti misalnya pada anak-anak yang sedang belajar bahasa, seakan-akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, mengulang-ulangi bunyi kata-kata, melatih fungsi-fungsi lidah, dan mulut untuk berbicara. Kemudian ia mengimitasi kepada orang lain, dan memang sukar orang belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain, bahkan tidak hanya berbahasa saja, tetapi juga tingkah laku tertentu, cara memberi hormat, cara berterima kasih, cara memberi syarat, dan lain-lain kita pelajari pada mula-mulanya mengimitasi.
Tarde (dalam Santoso, 2010:169) mengemukakan akibat proses imitasi dapat bersifat positif dan bersifat negatif, yaitu:
1) Akibat proses imitasi yang positif adalah: dapat diperoleh kecakapan dengan segera, dapat diperoleh tingkah laku yang seragam, dan dapat mendorong individu untuk bertingkah laku.
2) Akibat proses imitasi yang negatif adalah: apabila yang diimitasi salah maka akan terjadi kesalahan massal, dan dapat menghambat berpikir kritis.
Dari uraian diatas maka dapat diketahui bahwa faktor imitasi merupakan hal yang penting dalam interaksi sosial, karena untuk belajar sesuatu ataupun bertindak, pada mulanya kita pasti belajar dari orang lain, dan terus belajar agar dapat berperilaku dengan lebih baik. Namun imitasi juga dapat berdampak buruk pada interaksi individu jika yang diimitasi adalah hal yang salah, maka dari itu individu perlu memilih hal-hal yang baik untuk dicontoh agar dapat diterima dengan baik di lingkungannya.
b) Sugesti
Ahmadi (2007:53) mengemukakan bahwa,
“sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Karena itu dalam psikologi, sugesti ini dibedakan menjadi:
1) Auto-sugesti, yaitu sugesti terhadap diri yang datang dari dirinya sendiri.
2) Hetero-sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain.”

Baik auto-sugesti maupun hetero-sugesti dalam kehidupan sehari-hari memegang peranan yang cukup penting. Sering individu merasa sakit-sakitan saja, walaupun secara objektif tidak apa-apa. Tetapi karena ada auto-sugestinya maka individu merasa dalam keadaan yang tidak sehat, masih banyak lagi hal-hal yang disebabkan karena auto sugesti ini.
Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial adalah hampir sama, bedanya ialah bahwa dalam imitasi orang yang satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada sugesti seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luarnya.
Dari uraian diatas maka dapat diketahui bahwa sugesti merupakan pandangan dari diri sendiri maupun orang lain yang dapat diterima dan mempengaruhi sikap tertentu individu. Sugesti akan membawa seseorang pada suatu sikap sesuai dengan yang ada dipikirannya atau psikisnya.
c) Identifikasi
Freud (dalam Santoso, 2010:175) memberi pengertian identifikasi sebagai dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah.
Contoh identifikasi misalnya seorang anak laki-laki untuk menjadi sama seperti ayahnya atau seorang anak perempuan untuk menjadi sama seperti ibunya. Proses identifikasi ini mula-mula berlangsung secara tidak sadar (secara dengan sendirinya) kemudian irrasional, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan atau kecenderungan-kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, dan yang ketiga identifikasi berguna untuk melengkapi sistem norma-norma, cita-cita, dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu.
Dari uraian di atas, maka dapat lebih dijelaskan bahwa identifikasi berawal dari kesukaan dan kebiasaan individu terhadap individu yang akan ia identifikasi itu, tanpa sadar individu yang mengidentifikasi itu akan mengikuti tingkah laku, sikap, dan kebiasaannya. Setelah itu, karena samanya kebiasaan yang dilakukan, maka lama-kelamaan akan tumbuh perasaan-perasaan untuk menjadi sama dengannya, dan ingin memainkan peran sebagai orang yang diidentifikasi tersebut.
d) Simpati
Ahmadi (2007:58) mengemukakan bahwa,
“simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga ada proses identifikasi. Bahkan orang dapat tiba-tiba merasa tertarik kepada orang lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya.”

Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain. Seperti pada proses identifikasi, proses simpati pun kadang-kadang berjalan tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan. Katakanlah orang tiba-tiba tertarik dengan orang lain, seakan-akan dengan sendirinya. Tertariknya ini tidak pada salah satu ciri tertentu dan orang itu, tapi keseluruhan ciri pola tingkah lakunya.
Perbadaannya dengan identifikasi, dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejak, mencontoh, dan belajar. Sedangkan pada simpati, dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin kerja sama. Dengan demikian simpati hanya akan berlangsung dan berkembang dalam relasi kerja sama antara dua orang atau lebih, bila terdapat saling pengertian.
Dari uraian tersebut sudah dapat kita ketahui bahwa simpati adalah rasa tertariknya orang yang satu dengan orang yang lain dimana orang itu ingin mengerti seseorang tersebut dan ingin bekerja sama bahkan membantu orang tersebut yang dilandasi dengan adanya rasa pengertian.
3. Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu kontak sosial dan adanya komunikasi. Soekanto (2010:58) menyatakan syarat terjadinya interaksi sosial adalah kontak sosial dan komunikasi.
a) Kontak sosial
Kontak sosial berarti adanya hubungan yang saling mempengaruhi tanpa perlu bersentuhan. Misalnya, pada saat berbicara yang mengandung pertukaran informasi, tentu saja akan mempengaruhi pengetahuan dan cara pandang. Kontak sosial dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung antara satu pihak ke pihak lainnya.
Soekanto (2010:58) mengatakan bahwa,
“kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yakni:
1) Kontak sosial antarindividu atau antar orang per orang.
2) Antarindividu dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya.
3) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lain.”

Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder, juga dapat bersifat positif atau negatif, yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik, bahkan pemutusan interaksi sosial.
Dari uraian di atas maka dapat diketahui bahwa kontak sosial adalah hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok ataupun kelompok dengan kelompok yang dapat saling mempengaruhi tanpa perlu bersentuhan, misalnya saja suatu pembicaraan yang dapat bertukar informasi sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan dan sudut pandang orang lain.
b) Komunikasi
Soekanto (2010: 60) mengatakan bahwa,
“komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan berupa lambang-lambang yang mengandung arti, baik yang berwujud informasi, pemikiran, pengetahuan ataupun yang lain-lain dari komunikator kepada komunikan.”

Dalam komunikasi, yang penting adalah adanya pengertian bersama dari lambang-lambang tersebut, dan karena itu komunikasi merupakan proses sosial. Bila komunikasi itu berlangsung secara terus menerus maka akan terjadi suatu interaksi.
Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan-perasaan suatu kelompok manusia atau individu dapat diketahui oleh kelompok-kelompok lain atau orang-orang lainnya. Komunikasi dapat memungkinkan terjadinya kerja sama antara individu atau kelompok, namun disamping itu komunikasi juga dapat menyebabkan pertikaian sebagai akibat salah paham atau karena masing-masing tidak mau mengalah.
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari individu satu ke individu lain, yang dapat dilakukan secara langsung melalui suatu pembicaraan ataupun secara tidak langsung melalui media. Komunikasi yang dilakukan secara terus menerus inilah yang akan menimbulkan adanya interaksi sosial antarindividu ataupun antarkelompok.
Kontak sosial dan komunikasi ini sangat berhubungan, dimana dengan adanya kontak sosial dan komunikasi yang baik dapat menjalin suatu kerja sama dalam suatu hubungan, namun apabila terjadi pertentangan dan salah paham maka dapat menyebabkan suatu konflik bahkan pemutusan interaksi sosial. Maka dari itu, dua hal ini sangatlah penting untuk diperhatikan dan dilakukan dengan lebih baik agar interaksi sosial dapat berjalan dengan baik.
4. Tahap – Tahap Interaksi Sosial
Dalam prosesnya, berlangsungnya interaksi sosial akan menempuh beberapa tahapan, dimulai dari ketika individu baru memulai hubungan,
ada masalah dalah sebuah hubungan, ada penyelesaian dan kelegaan dalam sebuah hubungan dan seterusnya.
Menurut Santoso (2010:189-190), dalam proses interaksi sosial perlu menempuh tahap-tahap sebagai berikut:
a) Tahap pertama: ada kontak/hubungan
b) Tahap kedua: ada bahan dan waktu
c) Tahap ketiga: timbul problema
d) Tahap keempat: timbul ketegangan
e) Tahap kelima: ada integrasi

Dari pendapat di atas maka dapat diketahui bahwa interaksi sosial itu tidak terjadi secara begitu saja, namun ada proses dan tahapan yang dilalui, bermula dari adanya suatu kontak dengan individu atau kelompok lain yaitu adanya hubungan dan saling berkomunikasi, lalu ada bahan untuk dikomunikasikan tersebut dan mungkin mengatur waktu untuk berkomunikasi dengan lebih efektif, selanjutnya timbul problema dari pembicaraan atau hal yang dibicarakan tersebut, dan terjadi perdebatan atau ketegangan adalah hal yang harus dilewati dengan bijak sehingga pada akhirnya dapat mencapai integrasi, yaitu suatu pemecahan masalah dari problema dan ketegangan itu sehingga dapat menciptakan rasa lega dan daman dalam interaksi tersebut.
Tahap – tahap tersebut apabila dapat dilewati dengan baik oleh setiap individu, maka individu tersebut dapat dikatakan telah mampu melakukan suatu interaksi sosial dengan baik. Dalam setiap hubungan ada kalanya suatu problem dan ketegangan itu terjadi, namun dengan interaksi sosial yang baik, hal itu dapat diatasi dengan ditandai penyelesaian masalah yang segera didapatkan.

5. Bentuk Interaksi Sosial
Interaksi sosial memiliki beberapa bentuk yang dapat saja terjadi dalam sebuah situasi sosial ataupun kelompok sosial. Menurut Deuttch serta Park dan Buergess (dalam Santoso, 2010:191), bentuk-bentuk interaksi sosial meliputi:
a) Kerjasama
b) Persaingan
c) Pertentangan
d) persesuaian dan
e) perpaduan.

Bentuk-bentuk tersebut dapat lebih dijelaskan sebagai berikut:
a) Kerja Sama (Coorporation)
Menurut Sargent (Santoso, 2010:191), kerja sama adalah usaha yang dikoordinasikan yang ditujukan kepada tujuan yang dapat dipisahkan. Pengertian ini memperkuat pandangan bahwa kerja sama sebagai akibat kekurangmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dengan usaha sendiri sehingga individu yang bersangkutan memerlukan sbantuan individu lain.
Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang positif, dimana dibutuhkan rasa saling memahami dan kekompakan dalam melakukan sebuah kerja sama.
b) Persaingan (Competition)
Deuttch (dalam Santoso, 2010:193) menyatakan bahwa,
“persaingan adalah bentuk interaksi sosial di mana seseorang mencapai tujuan, sehingga individu lain akan dipengaruhi untuk mencapai tujuan mereka. Dalam persaingan, setiap individu dapat mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mereka masing-masing tanpa lepas dari pengaruh individu lain.”
Suatu persaingan pasti terjadi dalam interaksi sosial, karena setiap individu yang berada dalam suatu situasi sosial itu pasti memiliki tujuan yang ingin mereka capai, dimana tujuan individu itu bisa saja sama dengan individu lain yang berada dalam kelompok sosial yang sama. Misalnya, persaingan dalam memperebutkan juara kelas, tentu saja siswa akan bersaing baik melalui nilai-nilai tugas, ujian dan kegiatan-kegiatan belajar yang diadakan di kelasnya untuk menjadi yang terbaik, dan dalam hal itu tentu saja tidak terlepas dari interaksi siswa itu baik dengan teman maupun gurunya.
c) Pertentangan (Conflict)
Sargent (dalam Santoso, 2010:194) memberi pengertian bahwa,
“konflik adalah proses yang berselang-seling dan terus-menerus serta mungkin timbul pada beberapa waktu, lebih stabil berlangsung dalam proses interaksi sosial. Lebih lanjut, konflik dapat mengarah pada proses penyerangan karena adanya beberapa sebab seperti kekecewaan dan kemarahan.”
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa sebuah konflik itu bisa saja muncul dalam suatu hubungan, maka individu diharapkan dapat mengatasi konflik tersebut agar tidak berkepanjangan dan menyebabkan pertengkaran sehingga proses interaksi sosial dapat berjalan dengan baik.
d) Persesuaian (Acomodation)
Sargent (dalam Santoso, 2010:195) mengemukakan bahwa persesuaian adalah suatu proses peningkatan untuk saling beradaptasi atau penyesuaian. Tujuan persesuaian menurut Santoso (2010:195) antara lain:
1) Untuk mengurangi pertentangan antarindividu/kelompok karena adanya perbedaan.
2) Untuk mencegah meledaknya pertentangan yang bersifat sementara.
3) Untuk memungkinkan adanya kerja sama antarkelompok.
4) Untuk mengadakan integrasi antarkelompok sosial yang saling terpisah.
Dari uraian tersebut maka persesuaian itu sangat penting untuk disadari dan dilakukan dalam sebuah interaksi agar interaksi dapat berjalan dengan baik dengan adanya rasa saling pengertian dan memahami serta menimbulkan suatu kerja sama yang baik antarindividu maupun antarkelompok.
e) Perpaduan (Assimilation)
Sargent (dalam Santoso, 2010:197) mengemukakan bahwa,
“Perpaduan adalah suatu proses saling menekan dan melebur dimana seseorang atau kelompok memperoleh pengalaman, perasaan dan sikap dari individu dalam kelompok lain. Perpaduan ini memberi gambaran tentang penerimaan pengalaman, perasaan dan sikap oleh individu/kelompok lain, sehingga hal ini mempercepat proses perpaduan.”

Menurut Santoso (2010:199), terdapat dua bentuk perpaduan antara lain yaitu Alienation dan Stratification.
1) Alienation, yaitu suatu bentuk perpaduan di mana individu-individu kurang baik di dalam interaksi sosial. Misalnya, perpaduan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam.
2) Stratification, yaitu suatu proses di mana individu yang mempunyai kelas, kasta, kedudukan, memberi batas yang jelas dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, kehidupan kasta di Bali.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa perpaduan adalah dimana terdapat hal yang beragam atau kelompok yang berbeda dalam suatu konteks sosial. Interaksi sosial yang baik akan mencerminkan perilaku penerimaan dari individu/kelompok terhadap individu/kelompok lain.
6. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat membuat interaksi individu itu baik ataupun buruk, seperti yang dikemukakan oleh Sargent (dalam Santoso, 2010:199) sebagai berikut ;
a) Hakikat situasi sosial
b) Kekuasaan norma-norma yang diberikan oleh kelompok sosial
c) Kecenderungan kepribadian sendiri
d) Kecenderungan sementara individu
e) Proses menanggapi dan menafsirkan suatu situasi

Hal-hal tersebut dapat lebih dijelaskan sebagai berikut:

a) Hakikat situasi sosial
Situasi sosial itu dapat mempengaruhi bentuk tingkah laku terhadap individu yang berada dalam situasi tersebut.
b) Kekuasaan norma-norma yang diberikan oleh kelompok sosial
Kekuasaan norma-norma kelompok sangat berpengaruh terhadap terjadinya interaksi sosial antarindividu.
c) Kecenderungan kepribadian sendiri
Masing-masing individu memiliki tujuan kepribadian sehingga berpengaruh terhadap tingkah lakunya.
d) Kecenderungan sementara individu
Setiap individu berinteraksi sesuai dengan kedudukan dan kondisinya yang bersifat sementara.
e) Proses menanggapi dan menafsirkan suatu situasi
Setiap situasi mengandung arti bagi setiap individu sehingga hal ini mempengaruhi individu untuk melihat dan memaknai situasi tersebut.
Dari hal-hal di atas maka dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial itu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti situasi sosial, dimana individu itu akan bertingkah laku menyesuaikan dengan situasi tempatnya berada. Norma-norma atau nilai-nilai sosial, kepribadian individu itu sendiri yang pastinya setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda, posisi dan kedudukan individu dalam suatu tingkat sosial serta bagaimana individu memaknai suatu situasi juga dapat mempengaruhi individu bagaimana individu itu harus berperilaku dan berinteraksi dalam situasi sosial yang sedang dihadapinya.
7. Kriteria untuk Menganalisis Proses Interaksi Sosial
Untuk mengetahui bagaimana proses interaksi sosial berangsung dalam situasi sosial ataupun suatu kelompok tertentu, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menganalisis proses interaksi sosial. Bales (dalam Santoso, 2010:180) mengemukakan bahwa ada beberapa bidang perilaku dalam menentukan kriteria untuk menganalisis proses interaksi sosial, yang meliputi:
1) Bidang sosio-emosional yang berupa reaksi-reaksi positif, yang meliputi: (i) menunjukkan solidaritas, memberi hadiah; (ii) menunjukkan ketegangan positif, kepuasan, tatanan; (iii) menunjukkan persetujuan, pengertian, penerimaan.
2) Bidang-bidang tugas untuk memberi jawaban, meliputi: (i) memberi saran, tujuan; (ii) memberi pendapat, penilaian; (iii) memberi orientasi, informasi.
3) Bidang-bidang tugas untuk meminta tugas, meliputi: (i) meminta saran, nasihat; (ii) meminta pendapat, penilaian; (iii) meminta orientasi, informasi.
4) Bidang-bidang sosio-emosional yang berupa reaksi-reaksi negatif, yang meliputi; (i) menunjukkan pertentangan, mempertahankan pendapat sendiri; (ii) menunjukkan ketegangan, acuh tak acuh; (iii) menunjukkan ketidaksetujuan, penolakan.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam suatu interaksi sosial itu ada aksi dan reaksi, dimana aksi individu yang satu dapat menimbulkan reaksi individu yang lainnya yang dapat saling mempengaruhi. Perilaku positif maupun perilaku negatif dapat saja muncul dalam suatu interaksi sebagai akibat dari hubungan sosial dan emosional individu. Individu sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari individu atau kelompok lain dalam situasi sosial, dimana individu membutuhkan pendapat, saran ataupun nasehat dari individu yang lain untuk sesuatu yang telah dilakukannya, ataupun meminta individu lain melakukan sesuatu untuk dirinya karena tak mampu melakukannya. Begitu juga sebaliknya, individu dapat saja memberikan pendapat, masukan, saran, ataupun melakukan sesuatu untuk membantu individu lain yang membutuhkan bantuannya. Maka dalam suatu interaksi sosial yang baik, individu dituntut untuk berperilaku dengan baik sesuai nilai-nilai yang ada di dalam kelompoknya agar tercupta hubungan yang damai dan membahagiakan orang-orang yang terlibat didalamnya.

1. Pengertian Interaksi Sosial
Ada beberapa pengertian interaksi sosial menurut para ahli yang akan dijelaskan sebagai berikut ;
Bonner (dalam Ahmadi, 2007:49) merumuskan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.
Pendapat Bonner diatas menjelaskan bahwa interaksi sosial memiliki dampak, dimana ketika individu berhubungan dengan orang lain akan ada tingkah laku individu yang berubah dan terpengaruh dari tingkah laku individu yang lainnya dan hal itu merupakan hasil dari sebuah proses interaksi sosial.
Newcomb (dalam Santoso, 2010:163) mengatakan bahwa interaksi sosial adalah peristiwa yang kompleks, termasuk tingkah laku yang berupa rangsangan dan reaksi keduanya, dan yang mungkin mempunyai satu arti sebagai rangsangan dan yang lain sebagai reaksi.
Grath (dalam Santoso, 2010:163) mengemukakan bahwa,
“interaksi sosial adalah suatu proses yang berhubungan dengan keseluruhan tingkah laku anggota-anggota kelompok kegiatan dalam hubungan dengan yang lain dan dalam hubungan dengan aspek-aspek keadaan lingkungan, selama kelompok tersebut dalam kegiatan.”

Sutherland (dalam Santoso, 2010:164) menyatakan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan yang mempunyai pengaruh secara dinamis antara individu dengan individu dan antara individu dengan kelompok dalam situasi sosial.
Sargent (dalam Santoso, 2010:164) mengatakan bahwa interaksi sosial dapat diterangkan sebagai suatu fungsi individu yang ikut berpartisipasi / ikut serta dalam situasi sosial yang mereka setujui.
Dari empat pendapat diatas maka dapat dilihat bahwa interaksi sosial diamati dari segi proses, dimana interaksi sosial merupakan hubungan yang terjadi dalam situasi sosial serta adanya aksi dan reaksi yang saling timbal balik dari individu yang ikut berpartisipasi dalam situasi sosial itu sehingga menimbulkan pengaruh dalam suatu kegiatan kelompok tersebut.
Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat meleburkan diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.
Seseorang atau kelompok sebenarnya tengah berusaha atau belajar bagaimana memahami tindakan sosial orang lain atau kelompok lain ketika berinteraksi. Sebuah interaksi sosial akan kacau bila antara pihak-pihak yang berinteraksi tidak saling memahami motivasi dan makna tindakan sosial yang mereka lakukan.
Agar interaksi sosial bisa berjalan dengan tertib, teratur dan agar anggota masyarakat bisa berfungsi dengan baik dalam interaksi sosialnya, maka yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk melihat secara objektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain.

2. Faktor – Faktor yang Mendasari Berlangsungnya Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat berlangsung karena beberapa faktor penting, seperti yang dikemukakan oleh Santoso (2010: 166) yang menyebutkan ada 4 faktor yang mendasari interaksi sosial, yaitu :
a) faktor imitasi
b) faktor sugesti
c) faktor identifikasi, dan
d) faktor simpati.

a) Imitasi
Faktor ini telah diuraikan oleh Tarde (dalam Santoso, 2010:166) yang beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya berdasarkan pada faktor imitasi saja. Peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak kecil, terbukti misalnya pada anak-anak yang sedang belajar bahasa, seakan-akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, mengulang-ulangi bunyi kata-kata, melatih fungsi-fungsi lidah, dan mulut untuk berbicara. Kemudian ia mengimitasi kepada orang lain, dan memang sukar orang belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain, bahkan tidak hanya berbahasa saja, tetapi juga tingkah laku tertentu, cara memberi hormat, cara berterima kasih, cara memberi syarat, dan lain-lain kita pelajari pada mula-mulanya mengimitasi.
Tarde (dalam Santoso, 2010:169) mengemukakan akibat proses imitasi dapat bersifat positif dan bersifat negatif, yaitu:
1) Akibat proses imitasi yang positif adalah: dapat diperoleh kecakapan dengan segera, dapat diperoleh tingkah laku yang seragam, dan dapat mendorong individu untuk bertingkah laku.
2) Akibat proses imitasi yang negatif adalah: apabila yang diimitasi salah maka akan terjadi kesalahan massal, dan dapat menghambat berpikir kritis.
Dari uraian diatas maka dapat diketahui bahwa faktor imitasi merupakan hal yang penting dalam interaksi sosial, karena untuk belajar sesuatu ataupun bertindak, pada mulanya kita pasti belajar dari orang lain, dan terus belajar agar dapat berperilaku dengan lebih baik. Namun imitasi juga dapat berdampak buruk pada interaksi individu jika yang diimitasi adalah hal yang salah, maka dari itu individu perlu memilih hal-hal yang baik untuk dicontoh agar dapat diterima dengan baik di lingkungannya.
b) Sugesti
Ahmadi (2007:53) mengemukakan bahwa,
“sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Karena itu dalam psikologi, sugesti ini dibedakan menjadi:
1) Auto-sugesti, yaitu sugesti terhadap diri yang datang dari dirinya sendiri.
2) Hetero-sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain.”

Baik auto-sugesti maupun hetero-sugesti dalam kehidupan sehari-hari memegang peranan yang cukup penting. Sering individu merasa sakit-sakitan saja, walaupun secara objektif tidak apa-apa. Tetapi karena ada auto-sugestinya maka individu merasa dalam keadaan yang tidak sehat, masih banyak lagi hal-hal yang disebabkan karena auto sugesti ini.
Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial adalah hampir sama, bedanya ialah bahwa dalam imitasi orang yang satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada sugesti seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luarnya.
Dari uraian diatas maka dapat diketahui bahwa sugesti merupakan pandangan dari diri sendiri maupun orang lain yang dapat diterima dan mempengaruhi sikap tertentu individu. Sugesti akan membawa seseorang pada suatu sikap sesuai dengan yang ada dipikirannya atau psikisnya.
c) Identifikasi
Freud (dalam Santoso, 2010:175) memberi pengertian identifikasi sebagai dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah.
Contoh identifikasi misalnya seorang anak laki-laki untuk menjadi sama seperti ayahnya atau seorang anak perempuan untuk menjadi sama seperti ibunya. Proses identifikasi ini mula-mula berlangsung secara tidak sadar (secara dengan sendirinya) kemudian irrasional, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan atau kecenderungan-kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, dan yang ketiga identifikasi berguna untuk melengkapi sistem norma-norma, cita-cita, dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu.
Dari uraian di atas, maka dapat lebih dijelaskan bahwa identifikasi berawal dari kesukaan dan kebiasaan individu terhadap individu yang akan ia identifikasi itu, tanpa sadar individu yang mengidentifikasi itu akan mengikuti tingkah laku, sikap, dan kebiasaannya. Setelah itu, karena samanya kebiasaan yang dilakukan, maka lama-kelamaan akan tumbuh perasaan-perasaan untuk menjadi sama dengannya, dan ingin memainkan peran sebagai orang yang diidentifikasi tersebut.
d) Simpati
Ahmadi (2007:58) mengemukakan bahwa,
“simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga ada proses identifikasi. Bahkan orang dapat tiba-tiba merasa tertarik kepada orang lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya.”

Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain. Seperti pada proses identifikasi, proses simpati pun kadang-kadang berjalan tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan. Katakanlah orang tiba-tiba tertarik dengan orang lain, seakan-akan dengan sendirinya. Tertariknya ini tidak pada salah satu ciri tertentu dan orang itu, tapi keseluruhan ciri pola tingkah lakunya.
Perbadaannya dengan identifikasi, dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejak, mencontoh, dan belajar. Sedangkan pada simpati, dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin kerja sama. Dengan demikian simpati hanya akan berlangsung dan berkembang dalam relasi kerja sama antara dua orang atau lebih, bila terdapat saling pengertian.
Dari uraian tersebut sudah dapat kita ketahui bahwa simpati adalah rasa tertariknya orang yang satu dengan orang yang lain dimana orang itu ingin mengerti seseorang tersebut dan ingin bekerja sama bahkan membantu orang tersebut yang dilandasi dengan adanya rasa pengertian.
3. Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu kontak sosial dan adanya komunikasi. Soekanto (2010:58) menyatakan syarat terjadinya interaksi sosial adalah kontak sosial dan komunikasi.
a) Kontak sosial
Kontak sosial berarti adanya hubungan yang saling mempengaruhi tanpa perlu bersentuhan. Misalnya, pada saat berbicara yang mengandung pertukaran informasi, tentu saja akan mempengaruhi pengetahuan dan cara pandang. Kontak sosial dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung antara satu pihak ke pihak lainnya.
Soekanto (2010:58) mengatakan bahwa,
“kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yakni:
1) Kontak sosial antarindividu atau antar orang per orang.
2) Antarindividu dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya.
3) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lain.”

Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder, juga dapat bersifat positif atau negatif, yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik, bahkan pemutusan interaksi sosial.
Dari uraian di atas maka dapat diketahui bahwa kontak sosial adalah hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok ataupun kelompok dengan kelompok yang dapat saling mempengaruhi tanpa perlu bersentuhan, misalnya saja suatu pembicaraan yang dapat bertukar informasi sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan dan sudut pandang orang lain.
b) Komunikasi
Soekanto (2010: 60) mengatakan bahwa,
“komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan berupa lambang-lambang yang mengandung arti, baik yang berwujud informasi, pemikiran, pengetahuan ataupun yang lain-lain dari komunikator kepada komunikan.”

Dalam komunikasi, yang penting adalah adanya pengertian bersama dari lambang-lambang tersebut, dan karena itu komunikasi merupakan proses sosial. Bila komunikasi itu berlangsung secara terus menerus maka akan terjadi suatu interaksi.
Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan-perasaan suatu kelompok manusia atau individu dapat diketahui oleh kelompok-kelompok lain atau orang-orang lainnya. Komunikasi dapat memungkinkan terjadinya kerja sama antara individu atau kelompok, namun disamping itu komunikasi juga dapat menyebabkan pertikaian sebagai akibat salah paham atau karena masing-masing tidak mau mengalah.
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari individu satu ke individu lain, yang dapat dilakukan secara langsung melalui suatu pembicaraan ataupun secara tidak langsung melalui media. Komunikasi yang dilakukan secara terus menerus inilah yang akan menimbulkan adanya interaksi sosial antarindividu ataupun antarkelompok.
Kontak sosial dan komunikasi ini sangat berhubungan, dimana dengan adanya kontak sosial dan komunikasi yang baik dapat menjalin suatu kerja sama dalam suatu hubungan, namun apabila terjadi pertentangan dan salah paham maka dapat menyebabkan suatu konflik bahkan pemutusan interaksi sosial. Maka dari itu, dua hal ini sangatlah penting untuk diperhatikan dan dilakukan dengan lebih baik agar interaksi sosial dapat berjalan dengan baik.
4. Tahap – Tahap Interaksi Sosial
Dalam prosesnya, berlangsungnya interaksi sosial akan menempuh beberapa tahapan, dimulai dari ketika individu baru memulai hubungan,
ada masalah dalah sebuah hubungan, ada penyelesaian dan kelegaan dalam sebuah hubungan dan seterusnya.
Menurut Santoso (2010:189-190), dalam proses interaksi sosial perlu menempuh tahap-tahap sebagai berikut:
a) Tahap pertama: ada kontak/hubungan
b) Tahap kedua: ada bahan dan waktu
c) Tahap ketiga: timbul problema
d) Tahap keempat: timbul ketegangan
e) Tahap kelima: ada integrasi

Dari pendapat di atas maka dapat diketahui bahwa interaksi sosial itu tidak terjadi secara begitu saja, namun ada proses dan tahapan yang dilalui, bermula dari adanya suatu kontak dengan individu atau kelompok lain yaitu adanya hubungan dan saling berkomunikasi, lalu ada bahan untuk dikomunikasikan tersebut dan mungkin mengatur waktu untuk berkomunikasi dengan lebih efektif, selanjutnya timbul problema dari pembicaraan atau hal yang dibicarakan tersebut, dan terjadi perdebatan atau ketegangan adalah hal yang harus dilewati dengan bijak sehingga pada akhirnya dapat mencapai integrasi, yaitu suatu pemecahan masalah dari problema dan ketegangan itu sehingga dapat menciptakan rasa lega dan daman dalam interaksi tersebut.
Tahap – tahap tersebut apabila dapat dilewati dengan baik oleh setiap individu, maka individu tersebut dapat dikatakan telah mampu melakukan suatu interaksi sosial dengan baik. Dalam setiap hubungan ada kalanya suatu problem dan ketegangan itu terjadi, namun dengan interaksi sosial yang baik, hal itu dapat diatasi dengan ditandai penyelesaian masalah yang segera didapatkan.

5. Bentuk Interaksi Sosial
Interaksi sosial memiliki beberapa bentuk yang dapat saja terjadi dalam sebuah situasi sosial ataupun kelompok sosial. Menurut Deuttch serta Park dan Buergess (dalam Santoso, 2010:191), bentuk-bentuk interaksi sosial meliputi:
a) Kerjasama
b) Persaingan
c) Pertentangan
d) persesuaian dan
e) perpaduan.

Bentuk-bentuk tersebut dapat lebih dijelaskan sebagai berikut:
a) Kerja Sama (Coorporation)
Menurut Sargent (Santoso, 2010:191), kerja sama adalah usaha yang dikoordinasikan yang ditujukan kepada tujuan yang dapat dipisahkan. Pengertian ini memperkuat pandangan bahwa kerja sama sebagai akibat kekurangmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dengan usaha sendiri sehingga individu yang bersangkutan memerlukan sbantuan individu lain.
Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang positif, dimana dibutuhkan rasa saling memahami dan kekompakan dalam melakukan sebuah kerja sama.
b) Persaingan (Competition)
Deuttch (dalam Santoso, 2010:193) menyatakan bahwa,
“persaingan adalah bentuk interaksi sosial di mana seseorang mencapai tujuan, sehingga individu lain akan dipengaruhi untuk mencapai tujuan mereka. Dalam persaingan, setiap individu dapat mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mereka masing-masing tanpa lepas dari pengaruh individu lain.”
Suatu persaingan pasti terjadi dalam interaksi sosial, karena setiap individu yang berada dalam suatu situasi sosial itu pasti memiliki tujuan yang ingin mereka capai, dimana tujuan individu itu bisa saja sama dengan individu lain yang berada dalam kelompok sosial yang sama. Misalnya, persaingan dalam memperebutkan juara kelas, tentu saja siswa akan bersaing baik melalui nilai-nilai tugas, ujian dan kegiatan-kegiatan belajar yang diadakan di kelasnya untuk menjadi yang terbaik, dan dalam hal itu tentu saja tidak terlepas dari interaksi siswa itu baik dengan teman maupun gurunya.
c) Pertentangan (Conflict)
Sargent (dalam Santoso, 2010:194) memberi pengertian bahwa,
“konflik adalah proses yang berselang-seling dan terus-menerus serta mungkin timbul pada beberapa waktu, lebih stabil berlangsung dalam proses interaksi sosial. Lebih lanjut, konflik dapat mengarah pada proses penyerangan karena adanya beberapa sebab seperti kekecewaan dan kemarahan.”
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa sebuah konflik itu bisa saja muncul dalam suatu hubungan, maka individu diharapkan dapat mengatasi konflik tersebut agar tidak berkepanjangan dan menyebabkan pertengkaran sehingga proses interaksi sosial dapat berjalan dengan baik.
d) Persesuaian (Acomodation)
Sargent (dalam Santoso, 2010:195) mengemukakan bahwa persesuaian adalah suatu proses peningkatan untuk saling beradaptasi atau penyesuaian. Tujuan persesuaian menurut Santoso (2010:195) antara lain:
1) Untuk mengurangi pertentangan antarindividu/kelompok karena adanya perbedaan.
2) Untuk mencegah meledaknya pertentangan yang bersifat sementara.
3) Untuk memungkinkan adanya kerja sama antarkelompok.
4) Untuk mengadakan integrasi antarkelompok sosial yang saling terpisah.
Dari uraian tersebut maka persesuaian itu sangat penting untuk disadari dan dilakukan dalam sebuah interaksi agar interaksi dapat berjalan dengan baik dengan adanya rasa saling pengertian dan memahami serta menimbulkan suatu kerja sama yang baik antarindividu maupun antarkelompok.
e) Perpaduan (Assimilation)
Sargent (dalam Santoso, 2010:197) mengemukakan bahwa,
“Perpaduan adalah suatu proses saling menekan dan melebur dimana seseorang atau kelompok memperoleh pengalaman, perasaan dan sikap dari individu dalam kelompok lain. Perpaduan ini memberi gambaran tentang penerimaan pengalaman, perasaan dan sikap oleh individu/kelompok lain, sehingga hal ini mempercepat proses perpaduan.”

Menurut Santoso (2010:199), terdapat dua bentuk perpaduan antara lain yaitu Alienation dan Stratification.
1) Alienation, yaitu suatu bentuk perpaduan di mana individu-individu kurang baik di dalam interaksi sosial. Misalnya, perpaduan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam.
2) Stratification, yaitu suatu proses di mana individu yang mempunyai kelas, kasta, kedudukan, memberi batas yang jelas dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, kehidupan kasta di Bali.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa perpaduan adalah dimana terdapat hal yang beragam atau kelompok yang berbeda dalam suatu konteks sosial. Interaksi sosial yang baik akan mencerminkan perilaku penerimaan dari individu/kelompok terhadap individu/kelompok lain.
6. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat membuat interaksi individu itu baik ataupun buruk, seperti yang dikemukakan oleh Sargent (dalam Santoso, 2010:199) sebagai berikut ;
a) Hakikat situasi sosial
b) Kekuasaan norma-norma yang diberikan oleh kelompok sosial
c) Kecenderungan kepribadian sendiri
d) Kecenderungan sementara individu
e) Proses menanggapi dan menafsirkan suatu situasi

Hal-hal tersebut dapat lebih dijelaskan sebagai berikut:

a) Hakikat situasi sosial
Situasi sosial itu dapat mempengaruhi bentuk tingkah laku terhadap individu yang berada dalam situasi tersebut.
b) Kekuasaan norma-norma yang diberikan oleh kelompok sosial
Kekuasaan norma-norma kelompok sangat berpengaruh terhadap terjadinya interaksi sosial antarindividu.
c) Kecenderungan kepribadian sendiri
Masing-masing individu memiliki tujuan kepribadian sehingga berpengaruh terhadap tingkah lakunya.
d) Kecenderungan sementara individu
Setiap individu berinteraksi sesuai dengan kedudukan dan kondisinya yang bersifat sementara.
e) Proses menanggapi dan menafsirkan suatu situasi
Setiap situasi mengandung arti bagi setiap individu sehingga hal ini mempengaruhi individu untuk melihat dan memaknai situasi tersebut.
Dari hal-hal di atas maka dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial itu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti situasi sosial, dimana individu itu akan bertingkah laku menyesuaikan dengan situasi tempatnya berada. Norma-norma atau nilai-nilai sosial, kepribadian individu itu sendiri yang pastinya setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda, posisi dan kedudukan individu dalam suatu tingkat sosial serta bagaimana individu memaknai suatu situasi juga dapat mempengaruhi individu bagaimana individu itu harus berperilaku dan berinteraksi dalam situasi sosial yang sedang dihadapinya.
7. Kriteria untuk Menganalisis Proses Interaksi Sosial
Untuk mengetahui bagaimana proses interaksi sosial berangsung dalam situasi sosial ataupun suatu kelompok tertentu, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menganalisis proses interaksi sosial. Bales (dalam Santoso, 2010:180) mengemukakan bahwa ada beberapa bidang perilaku dalam menentukan kriteria untuk menganalisis proses interaksi sosial, yang meliputi:
1) Bidang sosio-emosional yang berupa reaksi-reaksi positif, yang meliputi: (i) menunjukkan solidaritas, memberi hadiah; (ii) menunjukkan ketegangan positif, kepuasan, tatanan; (iii) menunjukkan persetujuan, pengertian, penerimaan.
2) Bidang-bidang tugas untuk memberi jawaban, meliputi: (i) memberi saran, tujuan; (ii) memberi pendapat, penilaian; (iii) memberi orientasi, informasi.
3) Bidang-bidang tugas untuk meminta tugas, meliputi: (i) meminta saran, nasihat; (ii) meminta pendapat, penilaian; (iii) meminta orientasi, informasi.
4) Bidang-bidang sosio-emosional yang berupa reaksi-reaksi negatif, yang meliputi; (i) menunjukkan pertentangan, mempertahankan pendapat sendiri; (ii) menunjukkan ketegangan, acuh tak acuh; (iii) menunjukkan ketidaksetujuan, penolakan.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam suatu interaksi sosial itu ada aksi dan reaksi, dimana aksi individu yang satu dapat menimbulkan reaksi individu yang lainnya yang dapat saling mempengaruhi. Perilaku positif maupun perilaku negatif dapat saja muncul dalam suatu interaksi sebagai akibat dari hubungan sosial dan emosional individu. Individu sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari individu atau kelompok lain dalam situasi sosial, dimana individu membutuhkan pendapat, saran ataupun nasehat dari individu yang lain untuk sesuatu yang telah dilakukannya, ataupun meminta individu lain melakukan sesuatu untuk dirinya karena tak mampu melakukannya. Begitu juga sebaliknya, individu dapat saja memberikan pendapat, masukan, saran, ataupun melakukan sesuatu untuk membantu individu lain yang membutuhkan bantuannya. Maka dalam suatu interaksi sosial yang baik, individu dituntut untuk berperilaku dengan baik sesuai nilai-nilai yang ada di dalam kelompoknya agar tercupta hubungan yang damai dan membahagiakan orang-orang yang terlibat didalamnya.

Daftar Pustaka :

Santoso. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama
Santrock, J W. 2007. Remaja Edisi 11 Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Soekanto, S. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
Walgito, B. 2002. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi Yogyakarta
Ahmadi, A. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: