Beranda » Bimbingan dan Konseling » Hubungan Sosial

Hubungan Sosial

Archives

Categories

Calendar

Januari 2013
S S R K J S M
« Apr   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 204,021 hits

1. Pengertian Hubungan Sosial
Menurut Alisyahbana (dalam Ali dan Asrori. 2006). Hubungan sosial adalah cara- cara individu bereaksi terhadap orang- orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya. Hubungan sosial ini juga menyangkut penyesuaian diri terhadap lingkungan, seperti makan dan minum sendiri, mentaati peraturan, membangun komitmen bersama dalam kelompok atau organisasinya, dan sejenisnya.

Hal senada dinyatakan oleh Soekanto (2007) hubungan sosial, adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan mengandung kesadaran untuk saling menolong. Hubungan sosial terjadi karena ada interaksi sosial yang melibatkan emosi atau perasaan. Hubungan sosial ini mula- mula dimulai dari rumah sendiri kemudian berkembang lebih luas lagi ke lingkungan sekolah, dan dilanjutkan kepada lingkungan yang lebih luas lagi, yaitu tempat berkumpulnya teman sebaya. Namun demikian yang sering terjadi adalah bahwa hubungan sosial anak dimulai dari rumah, temen sebaya baru kemudian teman sekolah.
Kesulitan anak dalam hubungan sosial biasanya dikarenakan pola asuh orang tua di rumah berupa unjuk rasa sehingga mengakibatkan anak merasa takut dan hal ini berakibat kepada anak seperti anak tidak mampu mengambil inisiatif, tidak berani mengambil keputusan, tidak berani memutuskan pilihan teman yang dianggap sesuai. Kemungkinan anak dengan pola asuh seperti ini akan menimbulkan anak juga susah beradaptasi dengan situsi yang nantinya akan menimbulkan konflik pada diri anak sendiri.dari hal tersebut dapat diketahui bahwa pada peletak dasar hubungan sosial adalah dirumah yaitu pola asuh orang tua. Dalam psikologi remaja (Sunarto, 1998). Bahwa hal ini masih dapat diperbaiki, pola asuh yang seperti ini masih dapat diperbaiki oleh orang tua sendiri

Hubungan sosial yang terjadi dalam diri remaja lebih banyak menekankan pada hubungan terhadap kelompok sebaya. Karena remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai kelompoknya. Sebagaimana dijelaskan oleh Horrocks dan Benimoff (dalam Hurlock 2000) menjelaskan pengaruh teman sebaya sebagai berikut:
Kelompok sebaya merupakan dunia nyata kawula muda, yang menyiapkan panggung dimana ia dapat menguji diri sendiri dan orang lain. Di dalam kelompok sebaya ia merumuskan dan memperbaiki konsep dirinya, di sinilah ia dinilai oleh orang lain yang sejajar dengan dirinya dan yang tidak dapat memaksakan sanksi-sanksi dunia dewasa yang justru ingin dihindari. Kelompok sebaya memberikan sebuah dunia tempat kawula muda dapat melakukan sosialisasi dalam suasana di mana nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman-teman seusianya. Jadi, di dalam masyrakat sebaya inilah remaja memperoleh dukungan untuk memperjuangkan emansipasi dan di situ pulalah ia dapat menemukan dunia yang memungkinkannya bertindak sebagai pemimpin apabila ia mampu melakukannya. Kecuali itu, kelompok sebaya merupakan hiburan utama bagi anak-anak belasan tahun. Berdasarkan alasan tersebut kelihatanlah kepentingan vital masa remaja bagi remaja bahwa kelompok sebaya terdiri dari angota-anggota tertentu dari teman-temannya yang dapat menerimanya dan yang kepadanya ia sendiri bergantung.

Remaja lebih mudah melakukan hubungan sosial dengan teman sebayanya. Karena di dalam kelompok tersebut remaja merasa tidak dikendalikan oleh nilai-nilai yang dibuat oleh orang dewasa. Nilai-nilai yang berada di dalam kelompok tersebut adalah nilai-nilai yang sesuai dengan kondisinya. Dengan begitu remaja lebih mudah melakukan hubungan sosial dengan kelompok sebanyanya.

Ketika siswa sulit berhubungan sosial, maka siswa akan mengalami kendala dalam kehidupan sosialnya. Hal ini senada dengan pendapat Tohirin (1987: 127) masalah siswa yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya, diantaranya:
a. Kesulitan dalam persahabatan,
b. Kesulitan mencari teman,
c. Merasa Terasing dalam aktifitas kelompok,
d. Kesulitan dalam memperoleh penyesuain dalam kegiatan kelompok,
e. Kesulitan mewujudkan hubungan yang harmonis dalam keluarga,
f. Kesulitan dalam menghadapi situasi sosial yang baru.

Dengan demikian dapat dimaknai bahwa kemampuan sosial siswa sangat penting dalam membantu siswa bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
2. Kriteria Hubungan Sosial
Hubungan sosial memeliki beberapa kriteria hal ini senada diungkapkan Walgito (2010: 82), bahwa baik tidaknya hubungan sosial anatara individu yang satu dengan yang lain dapat dilihat dari beberapa segi yaitu:

a. Frekuensi hubungan
Frekuensi hubungan adalah sering atau tidaknya anak atau individu tersebut bergaul. Makin sering individu bergaul maka pada umumnya individu itu makin baik dalam segi hubungan sosialnya. Jika individu itu mengisolasi diri maka individu itu kurang baik dalam hubungan sosialnya. Walau namun pada frekuensi ini masih sulit seseorang mengukurnya karena akan menentukan batasan jumlah dikatakan baiak, cukup, dan kurang.

b. Intensitas hubungan
Intensitas ini adalah dalam tidaknya anak dalam bergaul atau intim-tidaknya nanak dalam bergaul. Makin anak mendalam seseorang dalam bergaul dalam hubungan sosialnya maka semakin baik pula kemampuan hubungan sosial anak. Teman yang intim berarti memiliki intensitas yang mendalam, teman yang akrab berarti hubungan sosialnya lebih baik namun dalam hal ini juga tidak bisa dijadikan tolak ukur yang pasti.

c. Popularitas hubungan
Poplaritas hubungan ini adalah banyak tidaknya teman bergaul hal ini dapat dijadikan dalam mengetahui dasar pakah seseorang memiliki hubungan sosial yang baik atu tidak orang yang memiliki teman bergaul banyak maka ia memiliki hubungan sosial yang baik.

3. Faktor- faktor yang mempengaruhi hubungan sosial
Dalam Asrori (2006 :92) proses sosialisasi individu itu terjadi dalam 3 lingkungan utama yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga bagaimana individu dapat berhubungan dengan keluarga dan sudara-saudaranya dalam pematangan emosi proses ini juga akan berpengaruh pada hubungan sosialnya dimasa yang akan datang, dalam lingkungan sekolah bagaimana individu dapat menjalin hubungan sosial yang baik dengan teman sebayanya dengan kondisi teman yang beragam dari kultur, warna dan tingkatan sosial. Dalam lingkungan masyarakat bagaimana anak dihadapkan dengan situasi dan maslah dalam kemasyarakatan. Dalam perkembanganya anak juga memahami sendiri proses penyesuaian diri dengan lingkungannya. Baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Perkembangan ini sangat berpengaruh bagaimana individu dapat menyesuaiakan diri dengan lingkunganya.

a. Lingkungan keluarga
Dalam lingkungan keluarga ada beberapa faktor yang sangat dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman dan kebebasan untuk menyatakan diri. Kebutuhan akan rasa aman ini sangat penting bagi anak, anak akan merasa kebutuhan dilindungi terhadap orang tua tercukupi. Perlindungan emosional ini menjauhkan ketegangan, membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, dan menstabilkan emosi anak. Dengan kata lain perkembangan sosial anak dilingkungan keluarga akan baik jika didukung dengan lingkungan keluarga yang kondusif. Iklim keluarga kondusif adalah; a.)ketika karakteristik internal keluarga berbeda dengan keluarga yang lainnya; b.) ketika ketika karakteristik indivudu tersebut mempengaruhi perilaku individu dalam keluarga itu termasuk pada remaja; c.) unsur kepemimpinan dan keteladanan kepala keluarga, sikap, dan harapan individu terhadap keluarga tersebut.

Remaja hidup dalam suatu kelompok individu yang disebut keluarga, maka hal ini adalah salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi perilaku remaja adalah interaksi anggota keluarga. Gander (dalam Walgito, 2010: 95) mengemukakan penelitianya pada tahun 1983 bahwa interaksi antara anggota keluarga yang tidak harmonis merupakan suatu korelat yang potensial menjadi penghambat perkembangan sosial remaja.

b. Lingkungan sekolah
Kehadiran lingkungan sekolah merupakan perluasan lingkungan sosial individu atau bahkan menjadi sebuah lingkungan yang menantang atau bahkan mencemaskan bagi diri remaja. Guru dan teman sebayanya membentuk lingkungan norma bagi dirinya. Selama tidak ada pertentangan maka selama itu pula remaja akan tidak akan mengalami kesulitan . jika pertentangan terjadi maka remaja akan mencari teman yang dapat menerima dirinya dalam penyesuaian diri.

Ada empat tahap proses penyesuaian diri yang harus dilakukan anak selama membangun hubungan sosialnya, yaitu sebagai berikut.
1. anak dituntut untuk dapat menghormati dan menghargai hak orang lain.
2. anak didik untuk menaati aturan dan menyesuaiakn diri dengan norma-norma kelompok.
3. anak dituntut untuk dewasa dalam melakukan interaksi sosial berdasar asas saling memberi dan menerima
4. anak dituntut untuk memahami orang lain.

Keempat proses ini dilakukan dengan tahap sederhana ke proses yang semakin komplek dan menuntut respon yang kompleks pula. Pada proses ini sangat mungkin terjadi anak menghadapi konflik yang berakibat pada terhambatnya perkembangan sosial mereka.

Menurut Barrow & Wood (dalam Psikologi Remaja 2010 :97). Sebagaimana dilingkungan keluarga lingkungan sekolah juga membutuhkan lingkungan yang kondusif pula. Kondusif tidaknya iklim yang ada di sekolah bagi perkembangan hubungan sosial siswa tersimpul dari interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan perilaku guru, etos kerja dan kualitas guru sehingga dapat menjadi model bagi siswa secara favourable dapat mempengaruhi perkrmbangan hubungan sosial remaja, meskipun disadari bahwa sekolah bukanlah satu- satunya faktor penentu.

c. Lingkungan Masyarakat
Menurut Walgito (2010: 97). Salah satu masalah yang dihadapi remaja pada proses sosialisasinya adalahbahwa tidak jarang masyarakat tidak bersikap konsisiten pada remaja.di satu sisi mereka dikatatakan dewasa namun kenyataannya di sisi lain remaja tidak diberikan kesempatan untuk melakukan perah penuh sebagai orang dewasa. Untuk menghadapi masalah-masalah penting dan menentukan remaja masih sering dianggap sebagai anak kecil, sehingga menimbulkan kejengkelan dan kekecewaan pada diri remaja. Seperti lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah yang dituntut untuk perkembangan sosial remaja, lingkungan masyarakat juga dituntut kondusif.

Siagian (1985), Remaja tengah mengarungi perjalanan masa mencari jati diri sehingga faktor keteladanan sistem nilai dan norma dalam masyarakat juga menjadi sesuatu yang sangat penting. Masa remaja adalah asa untuk menentukan identitas dan menentukan arah, tapi masa yang sulit ini akan menjadi semakin sulit dengan adanya kontradiksi dari masayarakat. Kurangnya keteladanan sosial akan mempengaruhi hubungan sosial remaja. Hal ini diperkuat oleh Wirosarjdono (1991). Yang mengatakan bahwa “bentuk – bentuk perilaku sosial yang ada merupakan hasil tiruan dan adaptasi dari pengaruh kenyataan sosial yang ada”. Dengan demikian iklim masyarakat mendapat urutan penting dalam variasi perkembangan hubungan sosial remaja.

Menurut Ali dan Ansori dalam psikologi remaja (2006 :98), Remaja sering kali ingin melepaskan diri dari orang tuanya merasa lebih nyaman dengan dengan teman sebayanya. Dalam mencari jati diri melalui lingkunganya, remaja cenderung berupaya menemukan tokoh identifikasi dari lingkungan jenis kelamin yang sama tetapi yang memiliki usia sedikit lebih tua. Jika telah menemukan tokoh identifikasinya seorang remaja cenderung lebih mengikuiti tokoh tersebut daripada orang tuanya. Kelompok teman sebaya memiliki peran penting dalam kehidupan remaja. Remaja sangat ingin dipandang dan dihargai oleh anggota kelompoknya, baik di sekolah maupun diluar sekolah. Penderitaan akan dirasakan lebih mendalam dari pada tidak dihargai dalam keluarga. Kohesi kelompok dan solidaritas kelompok sangat besar pada remaja. Oleh sebab itu tidak heran jika remaja bertingkah laku sperti anggota kelompoknya.

Masa remaja adalah masa yang sangat potensial ke arah positif dan negatif. Maka intervensi edukatif dalam bentuk pendidikan diperlukan, bimbingan, maupun pendampingan sangat diperlukan remaja untuk dapat diarahkan agar perkembangan remaja itu ke arah yang positif. Kerja sama yang baik antara orang tua, lingkungan sekolah dan masyarakat sangat diperlukan agar tercapai perkembangan remaja yang positif dan produktif. Dalam konteks proses belajar, gejala negatif yang tampak adalah kurang mandiri dalam belajar yang mengakibatkan gangguan metntal saat memasuki perguruan tinggi (Soewandi, 1993: 186). Seperti ketidaktahanan dalam belajar saat menghadapi ujian. (Lutfi, 1992: 2) membolos, menyontek, dan mencari bocoran soal ujian. Di sini dapat kita lihat penting sekali meningkatkan hubungan sosial pada siswa agar dalam proses pendidikananya dan proses kehidupan dalam masyarakat berjalan baik.

4. Pengaruh Hubungan Sosial terhadap tingkah laku
Menurut Boweby ( dalam psikologi Remaja 2006 : 86) Perkembangan anak semakin berkembang ketika anak mulai memasuki masa prasekolah, kira- kira usia 18 bulan. Pada usia ini dikenal dengan kesadaran diri atau lebih dikenal kesadaran akan dirinya dan kepemilikannya. Pada usia ini keinginan anak untuk mengeksplorasi lingkunganya semakin besar sehingga tidak jarang menimbulkan masalah yang berkaitan dengan kedisiplinan. Anak- anak mulai dihadapkan dengan orang-orang yang mendukungnya dan juga orang-orang yang menghalangi keinginannya. Pada masa ini sampai ahir masa sekolah ditandai dengan meluasnya lingkungan sosialnya.

Selain dengan anggota keluarganya anak-anak pada usia ini mulai mendekatkan diri dengan orang- orang lain di lingkungan sosialnya. Meluasnya lingkungan sosial anak menyebabkan anak memperoleh pengaruh di luar pengawasan orang tuanya. Anak semakin luas berhubungan dengan teman-temanya serta berhubungan dengan guru-guru yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap proses emansipasi dan sekaligus individuasi. Dalam proses ini, teman-teman sebaya mempunyai peranan yang sangat besar.

Dalam konteks ini, Piaget (dalam Walgito, 2006: 87) mengatakan bahwa permulaan kerja sama dan konformisme sosial pada saat anak mencapai usia 7-10 tahun dan mencapai puncak kurva pada saat anak berada antara umur 9-15 tahun. Ini dapat diartikan bahwa konformisme akan bertambah seiring dengan bertambahnya usia dari anak-anak sampai remaja bahkan sampai pada masa penurunan kembali. Penurunan ini disebabkan pada masa remaja sudah semikn barkembang keinginan mencari dan menemukan jati dirinya sehingga konformisme semakin berbenturan dengan upaya mencapai kemandirian atau individu.
5. Karakteristik Perkembangan Hubungan Sosial
Erikson mengemukakan bahwa kehidupan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Mereka dapat mengalami sikap hubungn sosial yang tertutup dan terbuka seiring dengan permasalahan pribadi yang dialaminya, hal ini biasa disebut dengan krisis identitas diri. Proses mencari identitas diri ini merupakan hal yang kompleks, pada pencarian jati diri ini akan didapat konsep diri pada remaja dan hal ini tidak hanya bagaimana keberadaan diri remaja namun juga bagaimana orang lain menilai tentang dirinya.hal ini sesuai dengan tahap perkembangan remaja menurut Erikson pada tahap ke enam yaitu masa remaja adalah masa menemukan jati diri dan teman akrab.

Menurut Ali dan Ansori (2006), karakteristik yang menonjol dalam perkembangan hubungan sosial remaja adalah:
a. Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan pergaulan;
b. Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial;
c. Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis;
d. Mulai tampak kecenderungannya untuk memilih karier tertentu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, hubungan sosial remaja ditandai dengan:

1. remaja mulai melakukan pergaulan dengan orang lain
2. mulai berteman dengan anak-anak seusianya dan mulai membentuk kelompok-kelompok.
3. remaja juga mulai menyadari dan memilih nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat
4. remaja mulai mencari nilai-nilai yang dapat menjadi pegangannya. Karena itu orang dewasa dan orang tua harus menunjukkan konsistensinya dalam memegang dan menerapkan nilai-nilai yang berlaku.
Karakteristik hubungan sosial remaja terlihat ketika ada ketertarikan dengan lawan jenis dan terlihat dari kecenderungan remaja untuk memilih karir tertentu agar pilihan karir remaja tepat maka perlu diberikan informasi dan pengertian agar dapat menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki
Hoffman (1989) mengemukakan bahwa ada tiga pola dalam menumbuh kembangkan potensi hubungan sosial remaja, yaitu:
a. pola asuh bina kasih (induction), yaitu pola asuh yang dilakukan orang tua atau orang dewasa lainnya dalam mendidik anak dan remaja melalui pemberian penjelasan yang rasional terhadap segala sikap dan keputusan yang akan diterapkan terhadapnya.
b. pola asuh lepas kasih (love withdrawal), yaitu pola asuh yang dilakukan orang tua atau orang dewasa lainnya dalam mendidik anak remaja melalui penarikan atau pengurangan kasih sayangnya bila anak tersebut tidak mematuhi kehendaknya, kemudian memberikannya kembali ketika anak sudah mematuhinya.
c. pola asuh unjuk kuasa (power assertion), yaitu pola asuh yang dilakukan orang tua atau orang dewasa lainnya dalam mendidik anak remaja melalui paksaan kehendak, sekalipun anak kurang biasa menerimanya.

Berdasarkan hal tersebut agar potensi hubungan sosial remaja berkembang dengan baik maka pola asuh yang tepat adalah dengan pola asuh bina kasih (induction). Hal ini dapat dilihat bahwa dalam pola asuh tersebut ada komunikasi antara orang tua dan anak dalam memberikan perintah, sehingga anak tidak merasa bingung dan tertekan dan berontak terhadap perintah orang tua.
6. Mengembangkan Keterampilan Sosial pada Remaja

Sebagai makhluk sosial, remaja dituntut untuk dapat beradaptasi dan hidup dalam lingkungan masyarakat sesuai dengan tahap perkembanganya, hal ini senada dengan Buhler (dalam Makmun, 2003) pada usia SLTA adalah (13-16) mulai mengetahui bahwa adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya kemudian pada usia (16-18) adalah berperilaku sesuai dengan tuntunan masyarakat dan kemampuan yang dimilikinya. Remaja dituntut dapat hidup dengan masyarakat sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Masa remaja adalah masa terjadi interaksi yang lebih luas mulai dari lingkungan keluarga teman- teman dan lingkungan sosial tempat remaja berada, dalam hal ini keterampian sosial remaja sangat dibutuhkan.
Ketidakmampuan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan remaja sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, tidak percaya diri, terisolir, dikucilkan dari lingkungan pergaulan, susah beradaptasi dan cenderung berperilaku normatif.
Keterampilan sosial merupakan usaha individu dalam mengatasi permasalahan sosial yang dialami oleh individu. Keterampilan-keterampilan sosial tersebut seperti kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan orang lain, member atau menerima, member atau menerima kritik, dan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.

Daftar Pustaka :

Ali, Muhammad & Muhamad Asrori.2006. Pendidikan Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Harlock, Elizabeth. 2000. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga
Sarwono, Sarlito Wirawan.2011.Psikologi Remaja.Jakarta; Raja Grafindo:Persada
Walgito,Bimo.2003.Psikologi Sosial.Yogyakarta: Penerbit Andi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: