Beranda » Bimbingan dan Konseling » Bimbingan Kelompok

Bimbingan Kelompok

Archives

Categories

Calendar

Januari 2013
S S R K J S M
« Apr   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 204,021 hits

1. Pengertian Bimbingan kelompok

Layanan bimbingan kelompok merupakan layanan bimbingan yang diarahkan pada sejumlah atau sekelompok individu. Pelaksanaan satu kali kegiatan, layanan bimbingan kelompok dapat memberikan manfaat atau jasa pada sekelompok orang. Layanan bimbingan kelompok dirasakan sangat efisien mengingat layanan ini mampu menjangkau lebih banyak konseli secara tepat dan cepat.

Selain efisiensi terdapat manfaat lain dari layanan bimbingan kelompok yaitu adanya interaksi antar individu yang memungkinkan klien untuk belajar bersosialisasi dan memahami permasalahan orang lain. Menurut Prayitno (1995) bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya. Sementara Romlah (2001) mendefinisikan bahwa bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu siswa agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.

Menurut Yusuf (2005) layanan bimbingan kelompok yaitu:

“merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan
peserta didik secara bersama- sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan.”

Layanan bimbingan kelompok mengaji pada pengertian di atas bertujuan untuk membantu peserta didik dalam menyelesaikan masalah individu, masyarakat dengan bantuan dari narasumber tertentu yang dilakukan bersama-sama. Sedangkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993), memberikan pengertian yang sederhana dan lebih mendalam dari bimbingan kelompok.
“pengertian bimbingan kelompok yang lebih sederhana memakai kelompok sekedar sebagai tempat atau wadah atau sarana yang dilaksanakan suatu usaha bimbingan, sedangkan dalam artinya yang lebih mendalam bimbingan kelompok mempergunakan dinamika kelompok yang benar-benar terarah dan positif untuk membantu klien memperkembangkan dirinya sendiri dalam menanggulangi masalah- masalahnya.”

Kesimpulan dari beberapa pengertian mengenai bimbingan kelompok di atas adalah suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Dinamika kelompok yaitu interaksi yang meliputi kegiatin saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran. Selanjutnya pemimpin kelompok sebagai mediator menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu siswa mencapai perkembangan yang optimal.

2. Tujuan Bimbingan Kelompok

Sejalan dengan konsepsi bimbingan dan konseling, tujuan bimbingan dan konseling mengalami perubahan dari yang sederhana sampai tahap yang lebih komprehensif. Bimbingan yang bersifat preventif bertujuan agar klien mampu mengatasi masalahnya setelah ia mengenal menyadari dan memahami potensi serta kelemahan dan kemudian mengarahkan potensinya untuk mengatasi masalah dan kelemahannya tersebut. Ada beberapa tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh beberapa ahli, sebagai berikut:

Menurut Amti (2002), secara umum bimbingan kelompok bertujuan untuk membantu para siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok untuk:
a. melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan
teman- temannya
b. melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok
c. melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama teman-teman dalam
kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada umumnya
d. melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan kelompok
e. melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan orang lain
f. melatih siswa memperoleh keterampilan sosial.

Sedangkan tujuan bimbingan kelompok seperti yang dikemukakan oleh Prayitno, (1995) adalah:
a. mampu berbicara di depan orang banyak
b. mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain
sebagainya kepada orang banyak
c. belajar menghargai pendapat orang lain
d. bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya
e. mampu mengendalikan diri dan menahan emosi.

Menurut Romlah (2001), secara umum tujuan bimbingan dinyatakan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu agar individu tersebut:
a) mengerti dirinya dan lingkungannya. Mengerti diri meliputi pengenalan
kemampuan, bakat khusus, minat, cita-cita, dan nilai-nilai hidup yang dimilikinya untuk perkembangan dirinya. Mengerti lingkungan meliputi pengenalan baik lingkungan fisik, sosial maupun budaya
b) mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidupnya secara bijaksana, baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan sosial pribadi. Termasuk didalamnya membantu individu untuk memilih bidang studi, karir, dan pola hidup pribadinya
c) mengembangkan kemampuan dan kesanggupannya secara maksimal
d) memecahkan masalah yang dihadapi secara bijaksana. Bantuan ini termasuk memberikan bantuan menghilangkan kebiasaan- kebiasaan buruk atau sikap hidup yang menjadi sumber timbulnya masalah
e) mengelola aktivitas kehidupannya, mengembangkan sudut pandangnya, dan mengambil keputusan serta bertanggung jawab terhadapnya
f) memahami dan mengarahkan diri dalam bertindak serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaa lingkungannya.

Maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok bertujuan agar seseorang mampu mengatasi masalahnya setelah ia mengenal, menyadari, dan memahami potensi serta kelemahan dan kemudian mengarahkan potensinya untuk mengatasi masalah dan kelemahan tersebut. Pencapaian tujuan yang jelas dalam suatu kegiatan layanan bimbingan menjadi suatu keharusan agar kegiatan dapat terarah dan dapat dilaksanakan secara optimal.
3. Materi Umum Layanan Bimbingan Kelompok

Kegiatan dalam bimbingan kelompok adalah pemberian informasi untuk keperluan tertentu bagi para anggota kelompok. Informasi itu kemudian digunakan untuk menyusun rencana dan membuat keputusan atau untuk keperluan lain yang relevan dengan informasi yang diberikan. Informasi yang diberikan dalam bimbingan kelompok itu terutama dimaksudkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman mengenai orang lain, sedangkan perubahan sikap merupakan tujuan yang tidak langsung.
Menurut Prayitno (1995) materi layanan bimbingan konseling kelompok dalam bidang- bidang bimbingan antara lain:
a) layanan bimbingan konseling kelompok dalam bimbingan pribadi.
Meliputi kegiatan penyelenggaraan bimbingan kelompok yang membahas masalah pribadi, yaitu masalah- masalah yang berkenaan dengan:
1. kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2. pengenalan dan penerimaan perubahan, pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri
3. pengenalan tentang kekuatan diri, bakat dan minat serta penyaluran dan pengembangannya
4. pengenalan tentang kekuatan dan kelemahan diri dan upaya penanggulangannya
5. kemampuan mengambil keputusan dan pengarahan diri sendiri
6. perencana dan penyelenggaraan hidup sehat.

b) layanan bimbingan konseling kelompok dalam bidang sosial
Meliputi kegiatan penyelenggaraan bimbingan kelompok yang membahas masalah sosial, yaitu masalah- masalah yang berkenaa dengan:
1. kemampuan berkomunikasi, serta menerima dan menyampaikan pendapat secara logis, efektif dan produktif
2. kemampuanbertingkah laku dan berhubungan sosial dengan menjunjung tinggi tata krama, norma dan nilai- nilai agama, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku
3. hubungan dengan teman sebaya
4. pemahaman dan pelaksanaan disiplin dan peraturan lembaga pendidikan
5. pengenalan dan pengamalan pola hidup sederhana yang sehat.

c) layanan bimbingan konseling kelompok dalam bimbingan belajar
meliputi kegiatan penyelenggaraan bimbingan kelompok yang membahas masalah belajar, yaitu masalah- masalah yang berkenaan dengan:
1. motivasi, tujuan belajar dan latihan
2. sikap dan kebiasaan belajar
3. kegiatan dan disiplin belajar serta berlatih secara efektif, efisien dan produktif
4. penguasaan materi pelajaran dan latihan/ ketrampilan
5. keterampilan teknis belajar
6. pengenalan dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya di sekolah dan lingkungan sekitar
7. orientasi belajar di sekolah yang lebih tinggi.

d) layanan bimbingan konseling kelompok dalam bimbingan karir
Meliputi kegiatan penyelenggaraan bimbingan kelompok yang membahas masalah pilihan kerja dan pengembangan karir, yaitu masalah-masalah yang berkenaan dengan:
1. pilihan dan latihan ketrampilan
2. orientasi dan informasi lembaga-lembaga ketrampilan sesuai dengan pilihan pekerjaan dan arah pengembangan karir
3. orientasi dan informasi lembaga-lembaga ketrampilan sesuai dengan pilihan pekerjaan dan arah pengembangan karir
4. Pilihan, orientasi, dan informasi perguruan/sekolah yang lebih tinggi sesuai dengan arah pengembangan karir.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa materi dalam layanan bimbingan kelompok memiliki peranan penting bagi konselor dan seluruh anggota untuk menentukan prioritas mengenai permasalahan yang hendak dibahas dalam kegiatan bimbingan kelompok. Hal ini membuat adanya arahan yang jelas mengenai aspek-aspek yang akan dikembangkan dari kegiatan layanan bimbingan kelompok tersebut. Aspek-aspek yang dikembangkan tersebut berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran.

4. Kegiatan Layanan Bimbingan Kelompok

Sebelum kegiatan layanan bimbingan kelompok dimulai, baik pemimpin kelompok maupun anggota kelompok hendaknya mengetahui dan menguasai apa yang sebenarnya terjadi dalam kelompok itu sehingga kegiatan kelompok dapat diselenggarakan dengan baik. Prayitno (1995) menyatakan bahwa dalam kegiatan kelompok (baik layanan bimbingan kelompok maupun konseling kelompok) terdapat hal-hal yang harus ditampilkan oleh seluruh anggota kelompok antara lain membina keakraban dalam kelompok: melibatkan diri secara penuh dalam suasana kelompok; bersama-sama mencapai tujuan kelompok; membina dan mematuhi aturan dan kegiatan kelompok: ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok: berkomunikasi secara bebas dan terbuka: membantu anggota lain dalam kelompok: memberikan kesempatan pada anggota lain dalam kelompok: dan menyadari pentingnya kegiatan kelompok.

Melalui dinamika kelompok semua anggota diharapkan ikut serta secara langsung dan aktif membicarakan topik permasalahan yang dibahas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok. Menurut Romlah (2001), konselor sebagai fasilitator perlu menciptakan suatu yang menarik dan menyenangkan untuk mendorong setiap peserta berinteraksi secara penuh dengan seluruh anggota kelompok lainnya dan menyerap serta menanggapi segala sesuatu yang berasal dari anggota lainnya demi terpecahkannya masalaha terhadap topik bahasan dalam bimbingan kelompok. Disisi lain, konselor juga mendorong semua anggota kelompok lainnya untuk menyumbangkan apa yang mereka miliki seperti pendapat, pengalaman, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok, baik pemimpin kelompok maupun anggota kelompok harus menguasa, memahami serta melibatkan diri secara penuh dalam proses kegiatan layanan bimbingan kelompok ini agar kegiatan bimbingan kelompok dapat terlaksana dengan baik.

5. Tahap Penyelenggaraan Layanan Bimbingan Kelompok

Penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok memerlukan persiapan dan praktik pelaksanaan kegiatan yang memadai dimulai dari langkah awal sampai dengan evaluasi dan tindak lanjutnya. Penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok harus melalui tahap-tahap kegiatan secara teratur dan berurutan karena setiap tahap merupakan kesatuan yang saling berintegrasi satu sama lain dan memiliki kekhasan yang mempengaruhi seluruh kegiatan kelompok.
Menurut Prayitno (1995), pelaksanaan tahap-tahap layanan bimbingan kelompok dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Langkah awal
Langkah awal diselenggarakan dalam rangka pembentukan kelompok sampai dengan mengumpulkan para peserta yang siap melaksanakan kegiatan kelompok. Langkah awal dimulai dengan penjelasan tentang adanya layanan bimbingan kelompok bagi peserta, yang lebih rinci lagi dengan penjelasan tentang pengertian, tujuan dan kegunaan secara umum layanan tersebut. Setelah penjelasan ini, langkah selanjutnya menghasilkan kelompok yang langsung merencanakan waktu dan tempat menyelenggarakan kegiatan bimbingan kelompok.

b. perencanaan kegiatan
Perencanaan kegiatan layanan bimbingan kelompok meliputi penetapan:
1) Materi layanan
2) Tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan kelompok itu sendiri
3) Sasaran kegiatan
c. Pelaksanaan tahap-tahap kegiatan.

1) Tahap pertama pembentukan.
Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri kedalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan masing-masing anggota. Pemimpin kelompok menjelaskan cara-cara dan asas-asas kegiatan bimbingan kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengadakan permainan untuk mengakrabkan masing-masing anggota sehingga menunjukkan sikap hangat, tulus, dan penuh empati

2)Tahap Kedua : Peralihan
Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok yang sebenarnya, Pemimpin kelompok menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh anggota kelompok pada tahap kegiatan lebih lanjut dalam kegiatan kelompok. Pemimpin kelompok menjelaskan peranan anggota kelompok dalam kegiatan, kemudian menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya.

Pada tahap ini pemimpin kelompok mampu menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka. Tahap kedua merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan ketiga. Dalam hal ini pemimpin kelompok membawa para anggota meniti jembatan tersebut dengan selamat. Bila perlu, beberapa hal pokok yang telah diuraikan pada tahap pertama seperti tujuan dan asas-asas kegiatan kelompok ditegaskan dan dimantapkan kembali, sehingga anggota kelompok telah siap melaksankan tahap bimbingan kelompok selanjutnya.
3) Tahap ketiga: Kegiatan
Tahap kegiatan ini merupakan tahap inti dimana masing-masing anggota kelompok saling berinteraksi memberikan tanggapan dan lain sebagainya yang menunjukkan hidupnya kegiatan bimbingan kelompok yang pada akhirnya membawa kearah bimbingan kelompok sesuai tujuan yang diharapkan.

4) Tahap pengakhiran
Tahap pengakhiran yaitu tahap akhir kegiatan untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan, dicapai oleh kelompok, dan merencanakan kegiatan selanjutnya.
Dalam setiap tahapan kegiatan, pemimpin kelompok harus melaksanakan tahapan dimulai dari tahap pertama yang ditandai adanya pengenalan dari masing- masing peserta kelompok sehingga tahap terakhir yang ditandai dengan pembahasan mengenai keberhasilan kelompok dalam menyelesaikan permasalahan. Jika terdapat tahapan yang tidak dilalui, maka akan terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan kegiatan menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, semua tahapan haruslah dilalui secara teratur, terencana, dan bertahap. Keteraturan dalam pelaksanaan tahapan ini nantinya akan turut menentukan keberhasilan itu sendiri.

5) Evaluasi kegiatan
Penilaian atau evaluasi kegiatan layanan bimbingan kelompok diorientasikan kepada perkembangan kemandirian siswa dan hal-hal yang dirasakan oleh anggota berguna. Penilaian kegiatan bimbingan kelompok dapat dilakukan secara tertulis, baik melalui essai, daftar cek, maupun daftar isian sederhana (Prayitno, 1995). Setiap pertemuan, pada akhir kegiatan pemimpin kelompok meminta anggota kelompok untuk mengungkapkan perasaannya, pendapatnya, minat, dan sikapnya tentang sesuatu yang telah dilakukan selama kegiatan kelompok (yang menyangkut isi maupun proses). Selain itu anggota kelompok juga diminta mengemukakan tentang hal-hal yang paling berharga dan sesuatu yang kurang di senangi selama kegiatan berlangsung. Penilaian atau evaluasi dan hasil dari kegiatan layanan bimbingan kelompok ini bertitik tolak bukan pada kriteria “benar atau salah”, tetapi berorientasi pada perkembangan, yakni mengenali kemajuan atau perkembangan positif yang terjadi pada diri anggota kelompok. Prayitno (1995) mengemukakan bahwa penilaian terhadap layanan bimbingan kelompok lebih bersifat dalam proses, hal ini dapat dilakukan melalui:
a. mengamati partisipasi dan aktivitas peserta selama kegiatan berlangsung
b. mengungkapkan pemahaman peserta atas materi yang dibahas
c. mengungkapkan kegunaan layanan bagi anggota kelompok, dan perolehan
anggota sebagai hasil dari keikutsertaan mereka
d. mengungkapkan minat dan sikap anggota kelompok tentang kemungkinan
kegiatan lanjutan
e. mengungkapkan tentang kelancaran proses dan suasana penyelenggaraan
layanan.

Evaluasi kegiatan dalam bimbingan kelompok, dilaksanakan setiap akhir pertemuan. Hal ini dilakukan dengan cara meminta tanggapan anggota kelompok mengenai bagaimana berlangsungnya kegiatan bimbingan kelompok tersebut baik mengenai proses maupun isinya.

6). Analisis tindak lanjut
Analisis dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut kemajuan para peserta dan langkah penyelenggaraan layanan. Dari sini akan dikaji apakah hasil pembahasan atau pemecahan masalah sudah tuntas atau masih ada aspek yang belum dijangkau dalam pembahsan tersebut. Dalam analisis, konselor sebagai pemimpin kelompok perlu meninjau kembali secara cermat hal-hal tertentu yang perlu diperhatikan seperti: pertumbuhan dan jalannya dinamika kelompok, peranan dan aktivitas sebagai peserta, homogenitas atau heterogenitas anggota kelompok, kedalaman dan keluasan pembahasan, kemungkinan keterlaksanaan alternatif pemecahan masalah yang dimunculkan dalam kelompok, dampak pemakaian teknik tertentu oleh pemimpin kelompok, dan keyakinan penerapan teknik-teknik baru, masalah waktu, tempat, bahan acuan, perlunya narasumber lain, dan sebagainya. Dengan demikian, analisis tersebut dapat merupakan evalusi dari apa yang sudah terlampaui dan dapat pula tinjauan ke depannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan layanan bimbingan kelompok harus melalui tahap-tahap dari keseluruhan urutan kegiatan. Setiap tahap kegiatan harus dilalui secara teratur dan berurutan karena setiap tahap merupakan kesatuan dari seluruh kegiatan yang memiliki karakteristik tersendiri yang mempengaruhi seluruh kegiatan kelompok.

6. Peranan Pemimpin Kelompok dan Anggota Kelompok

Dinamika kelompok yang tercipta dalam proses bimbingan kelompok menggambarkan hidupnya suatu kegiatan kelompok. Hangatnya suasana atau kakunya komunikasi yang terjadi juga tergantung pada peranan pemimpin kelompok. Oleh karena itu pemimpin kelompok memiliki peran penting dalam rangka membawa para anggotanya menuju suasana yang mendukung tercapainya tujuan bimbingan kelompok. Sebagaimana yang dikemukakan Prayitno (1995) bahwa peranan pemimpin kelompok ialah:
a. Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan ataupun campur
tangan langsung terhadap kegiatan kelompok. Campur tangan ini meliputi, baik
hal-hal yang bersifat isi dari yang dibicarakanmaupun yang mengenai
proses kegiatan itu sendiri.
b. Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana yang berkembang
dalam kelompok itu, baik perasaan anggota-anggota tertentu maupun
keseluruhan kelompok. Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasanan
perasaan yang dialami itu.
c. Jika kelompok itu tampaknya kurang menjurus kearah yang dimaksudkan maka
pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang dimaksudkan itu.
d. Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan balik) tentang
berbagai hal yang terjadidalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses
kegiatan kelompok.
e. Lebih jauh lagi, pemimpin kelompok juga diharapkan mampu mengatur “lalu
lintas” kegiatan kelompok, pemegang aturan permainan (menjadi wasit),
pendamai dan pendorong kerja sama serta suasana kebersamaan. Disamping itu
pemimpin kelompok, diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun yang
terjadi di dalam kelompok itu tidak merusak ataupun menyakiti satu orang atau
lebih anggota kelompok sehinggaia / mereka itu menderita karenanya.
f. Sifat kerahasiaan dari kegiatan kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-
kejadian yang timbul di dalamnya, juga menjadi tanggung jawab pemimpin
kelompok. Kegiatan layanan bimbingan kelompok sebagian besar juga
didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok tidak akan
terwujud tanpa keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok tersebut.
Karena dapat dikatakan bahwa anggota kelompok merupakan badan dan jiwa
kelompok tersebut.

Agar dinamika kelompok selalu berkembang, maka peranan yang dimainkan para anggota kelompok menurut (Romlah, 2001) adalah :
a. membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota
kelompok
b. mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan
kelompok
c. berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama
d. membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan
baik
e. benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan
kelompok
f. mampu berkomunikasi secara terbuka
g. berusaha membantu anggota lain
h. memberi kesempatan anggota lain untuk juga menjalankan peranannya
j. menyadari pentingnya kegiatan kelompok itu.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan bimbingan kelompok akan berjalan dengan baik, bila pemimpin maupun anggota kelompok memberikan peranannya masing-masing. Peran pemimpin kelompok adalah mengarahkan dan mengatur kegiatan bimbingan kelompok. Peran anggota kelompok adalah bersikap terbuka, membantu anggota kelompok lainnya, dan mematuhi peraturan yang telah disepakati bersama.

7. Kriteria Bimbingan Kelompok yang Efektif

Bimbingan kelompok merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen yang saling berkaitan. Dapat terlaksana secara efektif dan efisien jika semua komponen dalam sistem tersebut mengarah pada perubahan dan pada sesuatu yang positif. Komponen sistem dalam bimbingan kelompok menurut Wibowo (2005) adalah: variabel raw input (siswa/anggota kelompok); instrumental input (konselor, program, tahapan dan sarana); enviromental input (norma, tujuan dan lingkungan): proses atau perantara (interaksi, perlakuan kontrak perilaku yang disepakati akan diubah dan dinamika kelompok); output yaitu berkenaan dengan perubahan perilaku atau penguasaan tugas-tugas. Komponen-komponen sistem dalam bimbingan kelompok tersebut adalah :

a. Raw Input
Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam bimbingan kelompok. Raw Input dalam bimbingan kelompok adalah siswa. Karena bimbingan kelompok sifatnya pengembangan dan topik yang dibahas merupakan topik-topik umum, maka siapapun dapat menjadi anggota kelompok. Berikut ini beberapa pertimbangan dalam membentuk suatu kelompok bimbingan kelompok adalah (Prayitno,1995)
1) Jenis kelompok, untuk tujuan-tujuan tertentu mungkin diperlukan pembentukan kelompok dengan jumlah anggota yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, atau mungkin juga semua jenis kelamin anggota sama.
2) Umur, pada umumnya dinamika kelompok lebih baik dikembangkan dalam kelompok-kelompok dengan anggota seumur.
3) Kepribadian, keragaman atau keseragaman dalam kepribadian anggota dapat membawa keuntungan atau kerugian tertentu. Jika perbedaan diantara para anggota itu amat besar, maka komunikasi akan terganggu dan dinamika kelompok juga kurang hangat.
4) Hubungan awal, keakraban dapat mewarnai hubungan dalam anggota kelompok yang sudah saling bergaul sebelumnya, dan sebaliknya suasana keasingan akan dilaksanakan oleh para anggota yang belum saling kenal. Untuk kelompok tugas mungkin anggota yang seragam akan menyelesaikan tugas lebih baik. Sebaliknya, bagi kelompok bebas, khususnya dengan Tujuan kemampuan hubungan sosial dengan orang-orang baru, anggota kelompok yang beragam akan lebih tepat sasaran.

b. Intrumental Input

Konselor (pemimpin kelompok), program, dan tahapan, dan sarana merupakan instrumental input bimbingan kelompok. Konselor atau pemimpin kelompok harus menguasai keterampilan dan sikap yang memadai untuk terselenggaranya proses bimbingan kelompok yang efektif. Diantaranya pemimpin kelompok mampu melaksanakan teknik umum dengan istilah “3M” Mendengar dengan baik, memahami secara penuh, dan merespon secara tepat dan positif. Program kegiatan selayaknya dikembangkan sesuai kebutuhan siswa, kondisi objektif sekolah, perkembangan yang terjadi di masyarakat, serta keterampilan dankemampuan konselor di sekolah yang bersangkutan (Wibowo, 2005).

c. Enviromental Input

Kegiatan layanan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar dan terarah, apabila terdapat norma kelompok. Norma kelompok merupakan aturan yang dibuat, dan disepakati serta digunakan dalam kegiatan bimbingan kelompok. Selain itu lingkungan kondusif dalam kelompok juga perlu diciptakan demi tercapainya bimbingan kelompok yang efektif. Lingkungan kondusif yang dimaksud adalah adanya suasana akrab dan hangat yang mewarnai dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan interaksi dinamis antar anggota kelompok dan pemimpin kelompok dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok.

d. Proses
Kegiatan layanan bimbingan kelompok terlihat hidup apabila tercipta dinamika kelompok di dalamnya. Dinamika kelompok dapat dimanfaatkan dalam proses interaksi antar anggota dalam membahas topik yang disajikan, sehingga antar anggota dapat terjalin rasa empati, keterbukaan, rasa positif, saling mendukung dan merasa setara dengan anggota lain dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu perlu diperhatikan pula peranan yang hendaknya dimainkan oleh anggota maupun pemimpin kelompok. Peran anggota dan pemimpin kelompok dapat dilihat pada uraian dimuka. Agar proses bimbingan kelompok dapat mencapai keberhasilan, perlu disediakan sarana pendukung yaitu merupakan seperangkat alat bantu untuk memperlancar proses bimbingan kelompok. Alat bantu tersebut anta lain ruangan, tempat duduk, dan perlengkapan administrasi lainnya (Wibowo, 2005).

e. Output
Setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok siswa diharapkan memiliki sikap kemandirian yang lebih baik. Selain itu siswa diharapkan memiliki keterbukaan, rasa positif, empati, sikap saling mendukung, dan memiliki rasa setara dan kebersamaan yang tinggi.

Menurut Amti (2002) bahwa setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok, diharapkan anggota mampu mengembangkan sikap dan keterampilan sebagai berikut:
1) Sikap, meliputi tidak mau menang sendiri, tidak gegabah dalam berbicara, ingin membantu orang lain, lebih melihat aspek positif dalam menanggapi pendapat teman-temannya, sopan dan bertanggung jawab, menahan dan mengendalikan diri, mau mendengar pendapat orang lain, dan tidak memaksakan pendapatnya.
2) Keterampilan, meliputi mengemukakan pendapat kepada orang lain, menerima pendapat orang lain, dan memberikan tanggapan secara tepat dan positif.

Dari pemaparan di atas maka dapa disimpulkan bahwa bimbingan kelompok dapat terlaksana secara efektif bila komponen-komponen yang terdapat di dalamnya mengacu pada perubahan yang positif. Komponen tersebut terdiri atas raw input, instrumental input, environmental input, proses, dan output. Komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam kegiatan bimbingan kelompok.

Daftar pustaka :

Amti, E. 2002. Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Proyek
Pembinaan Pendidikan.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: Ghalia
Romlah, T. 2001. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Yusuf, S dan Nurihsan, J. 2005. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Mutiara Nurkencana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: