Beranda » Psikologi » Pengendalian Diri

Pengendalian Diri

Archives

Categories

Calendar

Januari 2013
S S R K J S M
« Apr   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 204,021 hits

1. Pengertian Pengendalian Diri
Larry (dalam R.S Satmoko, 1986:130) mengungkapkan bahwa Pengendalian diri adalah kemampuan mengenali emosi dirinya dan orang lain. Baik itu perasaan bahagia, sedih, marah, senang, takut, dan sebagainya, mengelola emosi, baik itu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas, kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, mengendalikan dorongan hati memotivasi diri sendiri, dan memahami orang lain secara bijaksana dalam hubungan antar manusia.

2. Pengendalian diri
Pengendalian diri seseorang yang baik dan yang buruk dapat terlihat dari kehidupan seseorang baik dari sifat dari dalam maupun dari luar, yaitu terbagi menjadi dua eksternal dan internal.

a. Internal(dari dalam):
Pengendalian diri dapat dilihat dari kehidupan seseorang dalam kehidupan sehari- hari yang mempunyai keinginan yang tinggi agar pada diri seseorang dapat tercapai keinginan dalam kehidupannya, contoh nya seperti:

1.Suka bekerja keras.
2.Memiliki inisiatif yang tinggi.
3.Selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.
4.Selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.
5.Selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil.

b. External (dari luar)
Pengendalian diri dari luar yang menunjukkan kendali diri seseorang kurang mempunyai harapan atau kemauan untuk berusaha memperbaiki kegagalan yang ada pada diri nya seperti:

1.Kurang memiliki inisiatif.
2.Mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan.
3.Kurang suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang mengontrol.
4.Kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.

Pada orang-orang yang memiliki pengendalian diri dari dalam faktor kemampuan dan usaha terlihat dominan, oleh karena itu apabila individu dengan internal mengalami kagagalan mereka akan menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula dengan keberhasilan, mereka akan merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa pengaruh untuk tindakan selanjutnya dimasa akan datang bahwa mereka akan mencapai keberhasilan apabila berusaha keras dengan segala kemampuannya . Sebaliknya pada orang yang memiliki pengendalian diri dari luar melihat keberhasilan dan kegagalan dari faktor kesukaran dan nasib, oleh karena itu apabila mengalami kegagalan mereka cenderung menyalahkan lingkungan sekitar yang menjadi penyebabnya. Hal itu tentunya berpengaruh terhadap tindakan dimasa datang, karena merasa tidak mampu dan kurang usahanya maka mereka tidak mempunyai harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.

Dimensi kepribadian yang berupa kontinum dari pngerdalian diri dari dalam menuju pengendalian diri dari luar, oleh karenanya tidak satupun individu yang benar-benar dari dalam atau yang benar-benar dari luar. Kedua tipe terdapat pada setiap individu, hanya saja ada kecenderungan untuk lebih memiliki salah satu tipe tertentu. Disamping itu pengendalian diri dari luar dan dari dalam tidak bersifat stastis tapi juga dapat berubah. Individu yang berorientasi dari dalam dapat berubah menjadi individu yang berorientasi dari luar dan begitu sebaliknya, hal tersebut disebabkan karena situasi dan kondisi yang menyertainya yaitu dimana ia tinggal dan sering melakukan aktifitasnya.

3. Aspek pengendalian diri tentang yang digunakan Rotter (1966) memiliki empat aspek dasar, yaitu a) Potensi perilaku yaitu setiap kemungkinan yang secara relatif muncul pada situasi tertentu, berkaitan dengan hasil yang diinginkan dalam kehidupan seseorang. b). Harapan , merupakan suatu kemungkinan dari berbagai kejadian yang akan muncul dan dialami oleh seseorang. c) Nilai unsur penguat adalah pilihan terhadap berbagai kemungkinan penguatan atas hasil dari beberapa penguat hasil-hasil lainnya yang dapat muncul pada situasi serupa. d) Suasana psikologis, adalah bentuk rangsangan baik secara internal maupun eksternal yang diterima seseorang pada suatu saat tertentu, yang meningkatkan atau menurunkan harapan terhadap munculnya hasil yang sangat diharapkan.

4. Setiap manusia mendapatkan dari budayanya tujuan-tujuan tertentu mengingat kompetensi, kebaikan dan keinginan lain. Agar dapat tujuan ini, pengendalian diri dibutuhkan.
Ada beberapa pengendalian diri antara lain adalah:

1. Pengendalian diri dan pengendalian eksternal
Pengendalian diri kadang- kadang dianggap lawan dari pengendalian eksternal. Pengendalian diri individu menempatkan standar sendiri untuk penampilan, dan dia memberi hadiah atau menghukum dirinya sendiri untuk memenuhi atau tidak memenuhi standar- standar ini. Pengendalian eksternal sebaiknya, seseorang yang lain menentukan standar dan mendermakan(atau tidak memberi) hadiah.
Tetapi semakin mendesak pengendalian diri, maka semakin sedikit subjek yang akan menggunakan pengendalian eksternal, dan itu merupakan alasan mengapa pengendalian diri dianggap sebagai keterampilan yang berharga (Thoresen dan Mahoney,1974;25).

2. Pengendalian diri dan Kebebasan
Para psikolog ekistensial seperti yang menyatakan bahwa manusia sungguh- sungguh bebas dan oleh karenanya bertanggung jawab sepenuhnya atas tindakan- tindakan mereka, sedangkan beberapa psikolog, seperti sebagian kecil dari masyarakat secara pribadi mendukung arti dari kebebasan memilih, sebagai ilmuan mereka mendasarkan pada determinisme, suatu gagasan bahwa tingkahlaku manusia sebagian besar disebabkan oleh kekuatan eksternal.

Perkembangan pengendalian diri dan proses nya

Larry (dalam R.S Satmoko, 1986:130) mengungkapkan bahwa Pengendalian diri adalah kemampuan mengenali emosi dirinya dan orang lain. Baik itu perasaan bahagia, sedih, marah, senang, takut, dan sebagainya, mengelola emosi, baik itu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas, kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, mengendalikan dorongan hati memotivasi diri sendiri, dan memahami orang lain secara bijaksana dalam hubungan antar manusia.
Salah satu teori pengendalian diri yang paling luas adalah catatan Larry tentang perkembangan ego. Ego adalah istilah Larry untuk cita- cita diri dan standar moral individu- mirip dengan apa yang kita namakan kata hati. Beberapa aliran psikologi lain menghasilkan teori tentang perkembangan pengendalian diri, tantangan yang paling besar bagi Larry datang dari para ahli behaviorosme, lengkap dengan temuan dari psikologi eksperimental mengenai bagaimana belajar. Apakah behaviorisme itu tepat atau tidak berdasarkan dasar-dasar pengendalian diri, mekanisme belajar yang diuraikan dalam teori ini ternyata sangat berhasil dalam memecahkan masalah- masalah dalam pola pengendalian diri yang sudah ditetapkan

1. Pengedalian mengenai Tingkah Laku Impulsif
Tingkah laku implusif adalah segala tingkah laku yang dilaksanakan segera demi kepuasan seketika. Karena itu pengendalian perilaku implusif meliputi dua kemampuan untuk menunggu sebelum bertindak dan kemampuan untuk menghilangakan kepuasan seketika demi hadiah yang lebih besar kelak.

2. Reaksi terhadap diri
Mekanisme tentang mempelajari kendali diri, kita berbicara terutama mengenai penguatan eksternal. Bagaimana pun, salah satu dari pelaksana kendali diri adaalah penguatan yang datang dari dalam reaksi individu terhadap diri sendiri.

3. Ciri Masalah Pengendalian diri
Jika pengkondisian kita untuk pengendalian diri itu sempurna, maka kendali jasmaniah, kendali implusif, dan reaksi diri kita akan membentuk kita sedemikian efisien sehingga dapat menjadikan kita bahagia secara terus menerus, bebas kesalahan dan kehidupan yang konstruktif, disertai dengan persetujuan lengkap dari diri sendiri dan masyarakat.
Pengendalian diri seseorang selalu memilki celah- celah tertentu di dalam nya, dibawah pengaruh kebiasaan mengalahkan diri dan perasaan menyesal karena perbuatan yang salah membusuk bersama, tidak menghasilkan penyelesaian.
Menurut teori perilaku pengendalian diri yang salah dikembangkan dengan cara yang sama seperti pengendalian diri yang baik yaitu melalui belajar. Masalah- masalah pengendalian diri muncul di daerah di mana proses belajar sudah tidak lagi mencukupi atau tidak sesuai.

Daftar Pustaka :

Latif, S.(1997).teknik Pengendalian Diri Sebagai Layanan Bimbingan Untuk Mengubah Perilaku Tidak Mendukung Belajar Siswa Sekolah Dasar.IKIP Malang.
R.S Satmoko. Psikologi Tentang Penyesuaiandan Hubungan Kemanusiaan edisi ke 3
Thoresen dan Mahoney.1974. Psikologi Tentang Penyesuaiandan Hubungan Kemanusiaan edisi ke 3


2 Komentar

  1. iwan tidung mengatakan:

    Ya, intinya mesti tahu dirilah..

  2. Eliya Rahmatika mengatakan:

    Post-kan materi tentang kepramukaan donk kak! Khususnya pramuka penggalang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: