Beranda » Psikologi » GANGGUAN EMOSI

GANGGUAN EMOSI

Archives

Categories

Calendar

Maret 2012
S S R K J S M
« Nov   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 204,021 hits

Gangguan Emosi

A. Pengertian Gangguan Emosi
Gangguan emosi adalah keadaan emosi yang menyebabkan gangguan pada diri seseorang, baik karena emosi yang timbul terlalu kuat atau emosi yang tidak hadir. Karena pada hakikatnya tidak ada emosi yang positif dan positif, tergantung persepsi individu yang terkait dan akibat yang akan dialaminya
Ada beberapa alasan orang mengalami gangguan emosi dikarenakan hal-hal seperti berikut:
a. Seseorang mengalami emosi tertentu, seperti kecemasan, dan kemarahan yang terlalu sering atau terlalu kuat.
b. Seseorang mengalami emosi tertentu yang terlalu jarang atau terlalu lemah. Mereka merasa tidak mampu menunjukkan rasa sayang, kepercayaan, marah atau penolakan.
c. Seseorang merasa kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain.Misalnya pacar membuat merasa bersalah, teman-teman mengecewakan, pasangan menimbulkan rasa takut, dan lainnya.
d. Seseorang merasa mengalami beberapa konflik karena dua atau lebih emosi. Misalnya antara marah dan takut, antara benci dan cinta, dan lainnya.( Achmanto Mendatu)

Jenis-jenis gangguan emosi

Gangguan kecemasan
Kecemasan adalah emosi yang ditandai dengan perasaan bahaya, ketegangan dan distress yang diantisipasikan oleh system syaraf parasintetik.
Pencetus Kecemasan
Menurut Freud ada dua sebab yang menjadi pencetus kecemasan diantaranya adalah :
• Bahaya yang berasal dari dunia nyata( missal terjebak dalam lift)
• Kesadaran akan datangnya hukuman yang berkaitan dengan pelampiasan dorongan seperti seksual dan tindakan amoral lainnya yang pada dasarnya di larang oleh norma agama.

Teori Kecemasan
• Kecemasan sebagai konflik yang tidak disadari, Freud yakin bahwa kecemasan neurotis merupakan akibat dari konflik yang tidak di sadari antara impuls id( terutama dorongan seksual) dengan kendala yang telah di tetapkan oleh ego dan super ego
• Kecemasan sebagai respon yang disadari,artinya seseorang tidak memfokuskan pada konflik yang terjadi tetapi lebih focus pada bentuk asosiasi kecemasan tersebut
• Kecemasan sebagai akibat kurang kendali, orang mengalami kecemasan bila menghadapi situasi yang tampak berada di luar kendalinya.

Bentuk Gangguan Kecemasan

a. Phobia
Beberapa pengertian phobia menurut Ahli :
Siti Meitchati( 1983;22) : adalah ketakutan yang tidak terkendalikan, tidak normal kepada suatu hal atau kejadian tanpa diketahui sebabnya.
James Drever(1986:346) : Kengerian atau ketakutan yang tidak terkendali yang pada umumnya disebabkan sifat abnormal terhadap situasi dan objek tertentu.
Suardiman ( 1986: 32) : Perasaan takut yang tidak masuk akal, orang yang mengalami gangguan tersebut sebenarnya menyadari akan keadaan tetapi ia tidak dapat membebaskan diri dari raa ketakutannya itu.
Jenis phobia menurut buku Dignostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV (DSM-IV), yaitu:
1. Phobia sederhana atau spesifik (Phobia terhadap suatu obyek/keadaan tertentu) seperti pada binatang, tempat tertutup, ketinggian, dan lain lain.
2. Phobia sosial (Phobia terhadap pemaparan situasi sosial) seperti takut jadi pusat perhatian, orang seperti ini senang menghindari tempat-tempat ramai.
3. Phobia kompleks (Phobia terhadap tempat atau situasi ramai dan terbuka) misalnya di kendaraan umum/mall) orang seperti ini bisa saja takut keluar rumah.

Penyebab phobia
Pada umumnya phobia disebabkan karena pernah mengalami ketakutan yang hebat atau pengalaman pribadi yang disertai perasaan malu atau bersalah yang semuanya kemudian ditekan kedalam alam bawah sadar. Peristiwa traumatis di masa kecil juga dianggap sebagai salah satu kemungkinan penyebab terjadinya phobia. Martin Seligman di dalam teorinya yang dikenal dengan istilah biological preparedness menyetakan bahwa phobia juga merupakan sebuah penyakit turunan dari nenek moyang. Seligman berkata bahwa kita sudah disiapkan oleh sejarah evolusi kita untuk takut terhadap sesuatu yang dapat mengancam survival kita,esbagi uapaya dalam mencapai eksistensi dalam hidup kita.
Teknik Penyembuhan Phobia
1. Hypnotheraphy: Penderita phobia diberi sugesti-sugesti untuk menghilangkan phobia.
2. Flooding: Exposure Treatment yang ekstrim. Si penderita phobia yang ngeri kepada anjing (cynophobia), dimasukkan ke dalam ruangan dengan beberapa ekor anjing jinak, sampai ia tidak ketakutan lagi.
3. Desentisisasi Sistematis: Dilakukan exposure bersifat ringan. Si penderita phobia yang takut akan anjing disuruh rileks dan membayangkan berada ditempat cagar alam yang indah dimana si penderita didatangi oleh anjing-anjing lucu dan jinak.
4. Abreaksi: Si penderita phobia yang takut pada kucing dibiasakan terlebih dahulu untuk melihat gambar atau film tentang kucing, bila sudah dapat tenang baru kemudian dilanjutkan dengan melihat objek yang sesungguhnya dari jauh dan semakin dekat perlahan-lahan. Bila tidak ada halangan maka dapat dilanjutkan dengan memegang kucing dan bila phobia-nya hilang mereka akan dapat bermain-main dengan kucing tersebut.
5. Reframing: Penderita phobia disuruh membayangkan kembali menuju masa lampau dimana permulaannya si penderita mengalami phobia, ditempat itu dibentuk suatu manusia baru yang tidak takut lagi pada phobia-nya.
Macam-macam Phobia:
1. Acrophobia / Hypsophobia: Ketakutan pada tempat yang tinggi.
2. Agyophobia: Ketakutan akan jalan yang ramai dan cenderung takut untuk menyeberang.
3. Arachnephobia: Ketakutan pada laba-laba.
4. Brontophobia: Ketakutan akan suara halilintar
5. Cibophobia: Takut makan karena takut menjadi sakit akibat kuman yang ada dalam makanan.
6. Clinicophobia: Ketakutan untuk ke dokter atau berobat
7. Cynophobia: Ketakutan terhadap anjing.
8. Entomophobia / Melissophobia: Ketakutan pada serangga.
9. Galeophobia / Ailurophobia / Gatophobia: Takut akan kucing.
10. Gamaphobia: Takut akan perkawinan
11. Gerontophobia: Ketakutan terhadap usia tua.
12. Hematophobia: Ketakutan melihat darah.
13. Hydrophobia / Iyssophobia: Takut pada air.

b. Panik
Merupakan serangan yang datangnya mendadak, tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat dikendalikan. Ketika mengalaminya seseorang akan merasakan sulit bernapas, gemetar, mual, berkeringat banyak, denyut jantung tidak teratur dan tanda-tanda ketegangan otot lainnya. Kecemasan ini sulit ditelusuri asal usulnya karena itulah sering disebut sebagai timbul tanpa rintangan (free floating).

Faktor penyebab panik (menurut teori Freud), yaitu:
– Ego berusaha mencegah id menyalurkan nalurinya/keinginannya biasanya naluri seks dan agresi justru pada situasi berbahaya di mana naluri-naluri tersebut mendapat hukuman. Konflik sadar antara id dan ego inilah yang menimbulkan kecemasan (menurut teori Freud).
– Sistem saraf otonom menjadi giat.
– Faktor bawaan genetika atau stress yang sangat besar seolah sebelumnya sudah dapat memprogramkan pada diri orang ini untuk dikemudian hari memperkembangkan gangguan panik tersebut.

c. Obsesif-kompulsif
Seseorang dinyatakan mengalami gangguan ini sangat dikuasai oleh obsesi (gangguan terus menerus dari pikiran atau bayangan yang tidak diinginkan) dan kompulsif (desakan yang tidak tertahankan untuk melaksanakan tindakan atau ritual tertentu).

Pikiran dan tindakan yang dikategorikan dalam Obsesif Kompulsif

Keraguan obsesif yang terus menerus terjadi akan hasil yag sempurna mungkin dalam melakukan tugas khusus. Misalnya mengunci pintu rumah pada malam hari.
Pikiran obsesif yaitu rentetan pikiran yang tidak pernah berhenti seringkali mengenai pikiran tentang masadepan.
Dorongan obsesif, dorongan yang tidak dapat terkendali untuk melakukan suatu dari yang biasa sampai pada pembunuhan.
Ketakutan obsesif. Yautu sangat khawatir dan cemas bahwa dirinya akan melakukan tindakan yang tak terkendali atau yang memalukan.
Khayalan obsesif yaitu mengahaylkan suatu situasi yang baru saja dilihat, dimana khayalan tersebut terus-menerus muncul tak terkendalikan.
Menyerah terhadap kompulsi, yaituu melakukan suatu tindakan yang muncul akibat perintah pikiran obsesif misalnya memeriksa kantung berulang-ulang.
Mengendalikan kompulsi, yaitu dengan sengaja melakukan taktik mengalihkan perhatian agar tidak diganggu oleh pemikiran tersebut.

d. Frustasi
Frustasi dapat diartikan sebagai, keadaan emosional yang timbul, manakala terdapat halangan dalam usaha dalam memenuhi keinginan, kebutuhan, tujuan, pengharapan, atau tindakan tertentu.
e. Konflik
Konflik timbul dalam situasi dimana terdapat dua atau lebih kebutuhan harapan, keinginan dan tujuan yang tidak bersesuaian dan menyebabkan salah satu organisme merasa ditarikkearah dua jurusan yang berbeda sekaligus dan menimbulkan perasaan yang tidak enak.

Jenis-Jenis Konflik menurut tindakan yang diambil menurut Kurt Lewin dan Miller (dalam psikologi abnormal,edisi 9, Gerald C. Davidson)
• Konflik mendekat-mendekat( Approach-approach) akan terjadi bila seseorang dihadapkan pada tindakan tertentu dan harus memilih antara dua tujuan, kebutuhan, benda atau tindakan tindakan tertentu yang sama.
• Konflik menghindar-menghindar( approach-avoidance conflict) akan terjadi bila seseorang menghadapi serempak dua hal yang sama tidak menariknya bagi dia dan harus memilih salah satu.
• Konflik mendekat-menghindar ganda yaitu konflik yang melibatkan dua tujuan dan masing-masing sama-samamengandung kebaikan dan keburukan sekaligus.

Gangguan Afektif
Gangguan Afektif merupakan gangguan pada afeksi atau suasana hati(mood). Perubahan suasana hati semacam ini mungkin saja sangat parah sehingga individu tersebut perlu dirumah sakitkan. Memiliki cirri pertama-tama dengan kesdihan yang luar biasa atau sebaliknya kegembiraan atau kegairahan yang sangat luar biasa.

Penyebab gangguan afektif
• Bila semasa Oral anak memperoleh kepuasan yang terlalu banyak atau terlalu sedikit akan membuat anak tersebut bergantung denganorang lain. Lalu ketika ia mengalami kehilangan nyata dan kehilangan simbolik maka ia akan menyalahkan orang lain yang menyebabkan kehilangan tersebut.( Sigmund Freud, dalam Psikologi perkembangan oleh)
• Peran kognitif, pengalaman masalau penderita depresi telah menmberikan bekas atau persepsi diri bahwa dirinya dalah mahluk yang tidak berdaya.( Martin Seligment dalam http://www.nurdiansyah.wordpress.com)

Bentuk gangguan afektif
a. Depresi
Depresi merupakan respon normal terhadap berbagai stress kehidupan. Situasi yang paling menyebabkan depresi adalah kegagalan ,kehilangan seseorang yang dicintai. Depresi akan dinggap abnormal bila depresi tersebut diluar kewajaran dan berlanjut sampai masa-masa dimana orang tersebut tidak dapat pulih kembali. Dan menyebbksn orsng lain merasa terganggu.
b. Stess
Menurut Kyrisco & Suteliffe stress adalah segala kejadian yang dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri atau rasa aman individual.
Sedangkan menurut Pandji Anaroga( 1992: 108) stess adalah suatu bentuk tanggapan seseorang baik sevara fisik maupun mental terhadap suatu perubahan lingkungan yang dirasakan mengganggudan mengakibatkan dirinya terancam.

Pengaruh stess secara fisiologis
Jika system syaraf yang otomik yang menjadi pemicu maka akan dapat menjurus pada gangguan fisik seperti bisul.jerawat, teknan darah tinggi dan serangan jantung.
Merusak respon daya tahan seseorang mengurangi kemampuan melawan bakteri yang menyebabkan seseorang mudah sakit

Gejala-gejala stress dari yang ringan sampai yang beresiko
• Gejala badan : sakit kepala, maag, mudah kaget, banyak keluar keringat dingin tenggorokan tersumbat, sering pingsan.
• Gejala emosional : pelupa sukar konsentrasi sulit dalam mengambil keputusan cemasdan mudah putus asa.
• Gejala social : menarik duri dalam pergaulan, mudah tersinggung.

Ganggan Disasosiatif
Gangguan disasosiatif adalah gangguan yang mencakup beberapa kumpulan gejala dengan cirri-ciri perubahan kesadaran teutama daya ingat menjadi lemah. Gangguan disasosiatif baru akan dinyatakan pada seseorang bila jelas-jelas tidak ada kelainan fisik pada orang tersebut.

Bentuk gangguan Disasosiatif
a. Amnesia
Individu yang bersangkutan tiba-tiba akan lupa sama sekali informasi yang ada pada dirinya. Lupa ini dapat berlangsung selama beberapa menit tetapi juga beberapa tahun.
b. Figure
Hampir sama dengan amnesia yang melupakan informasi pada dirinya, akan tetapi perbedaannya individu tersebut seolah-olah pindah ketempat baru atau memulai hidupnya yang baru. Individu ini dapat berkembang dengan baik di lingkungan barunya, tetapi sebelumnya dia tidak mampu sama sekali mengingat siapa dirinya.

Gangguan Psikotik
a. Skizoprenia
Skizofrenia adalah gangguan psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Gejala Skizofrenia
Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: individu sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin, mengalami distorasi emosi, yaitu kesulitan dan ketidakmampuan menikmati hidup, bersikap apatis, dan respon emosional yang tidak cocok dengan rangsangnya.
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:
1. Gejala-gejala Positif
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
2. Gejala-gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).

Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau streotip yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren.

Faktor yang mempengaruhi schizophrenia
a. Factor genetic
b. Factor biokimia, penederita schizophrenia meningkatkan bahan kimiawi yang disebut seruloplasmin dalam darah mereka( Akerfeldt, 1957)
c. Factor sosial dan psikologis, gangguan schizophrenia jauh lebih banyak ditemukan di kalangan orang-orang kelas bawah dibandingkan dengan kelas menengah atau kelas atas( Dohrenwend, 1973: Strauss 1982)

Sub tipe gangguan schizophrenia
a. Skizoprenia paranoid, yaitu kepemilikan perasaan yanga amat takut terhadap hikuman dan ancaman.
b. Skizoprenia tak teratur( hebeprenik), memperlihatkan perilaku yang merusak, kacau dan kekanak-kanakan.
c. Skizoprenia katatonik, ditandai dengan sering bereaksi dengan gairah tinggi, terlalu aktif bicara banyak.
d. Skizoprenia dungu, yaitu ditandai dengan tindakan yang sangat apatis, menarik diri dari pergaulan social dan sama sekali tidak berminat pada lingkungan sekitarnya.

Upaya yang dilakukan dalam penanggulangan ganguan emosi

a. Terapi holistic, yaitu terapi yang tidak hanya menggunakan obat dan ditujukan kepada gangguan emosinya saja, dalam arti lain terapi ini memberikan perlakuan menyeluruh kepada individu.
b. Psikoterapi keagamaan, yaitu terapi yang diberikan dengan kembali mempelajari dan mengamalkan ajaran agama
c. Farmakoterapi, yaitu terapi dengan menggunakan obat. Terapi ini biasanya diberikan oleh dokter dengan memberikan resep obat pada orang yang mengalami gangguan emosi.
d. Terapi perilaku, yaitu terapi yang dimaksudkan agar individu berubah, baik sikap maupun perilakunya terhadap obyek atau situasi yang menakutkan. Secara bertahap individu yang bersangkutan dibimbing dan dilatih untuk menghadapi berbagai objek atau situasi yang menimbulkan rasa panik dan takut. Sebelum melakukan terapi ini diberikan psikoterapi untuk memperkuat kepercayaan.


4 Komentar

  1. kurnia mengatakan:

    Salam sejahtera.. admin..nama Anda asli siapa,,hal ini saya butuhkan untuk penulisan daftar pustaka dalam karya tulis ilmiah saya,, dan dosen saya menyarankan hal itu karena saya mengambil bahan dari website Anda…atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih..blas di email saya ya..

  2. GANGGUAN EMOSI mengatakan:

    […] Sumber : https://herrystw.wordpress.com […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: