Beranda » Uncategorized » Terapi Behavioral

Terapi Behavioral

Archives

Categories

Calendar

November 2011
S S R K J S M
« Mei   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 204,021 hits

Terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan B.F. Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1985) untuk menanggulangi (treatment) neurosis. Dasar teori Behavioral adalah bahwa prilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi: (1). Belajar waktu lalu dalam hubungannya dengan keadaan yang serupa; (2). Keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap kepekaan terhadap lingkungan; (3). Perbedaan-perbedaan biologik baik secara genetik atau karena gangguan fisiologik.
Para konselor behavioral memandang kelainan prilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari. Karena itu dapat diubah dengan mangganti situasi positif yang direkayasa sehingga kelainan prilaku berubah menjadi positif.
1. Tujuan Konseling
Tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu klien membuang respon-respon yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat. Sedangkan tujuan terapi behavioral adalah untuk memperoleh prilaku baru, mengeleminasi prilaku yang maladatif dan memperkuat serta mempertahankan prilaku yang diinginkan.
2. Hubungan Klien dan Konselor
Dalam hubungan konselor dengan klien ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. konselor memahami dan menerima klien.
2. keduanya bekerjasama.
3. konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan klien.

3. Teknik-teknik Konseling
Didalam kegiatan konseling behavioral (prilaku), tidak ada suatu teknik konselingpun yang selalu harus digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dieliminasi dan diganti dengan teknik yang baru. Berikut ini dikemukakan beberapa teknik konseling behavioral.
1. Desensitisasi sitematik (systematic desensitization)
Teknik ini dikemukakan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua prilaku neurotic adalah ekspresi dan kecemasan.
Teknik desensitisasi sistematik bermaksud mengajar klien untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami klien. Teknik ini tidak dapat berjalan tanpa teknik relaksasi. Didalam konseling itu klien dajar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman-pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan, atau mengecewakan. Situasi yang disusun secara sistematis dai yang kurang mencemaskan hingga yang paling mencemaskan.

2. Assertive training
Assertive training, merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak dalam menyatakannya. Sebagai contoh ingin marah, tapi berespon manis.
Assertive training adalah suatu teknik untuk membantu klien dalam hal-hal berikut:
a. Tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelannya.
b. Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari padanya.
c. Mereka yang mengalami kesulitan dalm berkata “tidak”.
d. Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya.
e. Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya.

3. Aversion therapy
Teknik ini bertujuan untuk menghukum prilaku negative dan memperkuat perilaku positif.
4. Home-work
Yaitu suatu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: