HUBUNGAN DAN PROSES KONSELING

A. MAKNA HUBUNGAN KONSELING

Hubungan konseling ialah hubungan yang membantu, artinya pembimbing berusaha membantu si terbimbing agar tumbuh, berkembang, sejahtera dan mandiri.
Shertzer dan Stone (1980) mendefinisikan hubungan konseling yaitu interaksi antar seseorang dengan orang lain yang dapat menunjang dan memudahkan secara positif bagi perbaikan tersebut.
Rogers mendefinisikan hubungan konseling sebagai hubungan seseorang dengan orang lain yang datang dengan maksud tertentu.
Benjamin, dalam Sertzer & Stone (1980) mengartikan hubungan konseling yaitu interaksi antara seseorang yang profesional dengan klien dengan syarat bahwa profesional itu mempunyai waktu, kemampuan untuk memahami dan mendengarkan, serta mempunyai minat, pengetahuan dan keterampilan.
Tujuan utama konseling adalah untuk memudahkan perkembangan individu.

B. HUBUNGAN KONSELING DAN AGAMA

Hubungan konseling hanya mencakup aspek psikologis, filosofis dan keterampilan teknis, dan bidang agama jarang masuk kedalamnya. Agama amat menyentuh iman, taqwa dan akhlak. Jika iman kuat, maka ibadah akan lancar termasuk berbuat baik terhadap sesama manusia, karena telah terbentuk akhlak yang mulia. Dengan kata lain, kuatnya iman, lancarnya ibadah serta baiknya akhlak akan memudahkan sesorang untuk mengendalikan diri dan beramal untuk masyarakat dan alam sekitarnya.
 Karekteristik hubungan konselor dengan klien
 Hubungan konseling itu sifatnya bermakna, maknanya adalah bahwa hubungan konseling mengandung harapan bagi klien dan konselor. Juga memiliki tujuan yang jauh yaitu tercapainya perkembangan klien.
 Bersifat Afek, adalah perilaku-perilaku emosional, sikap dan kecenderungan-kecenderungan yang didorong oleh emosi, dimana sifat ini hadir karena dalam hubungan konseling terdapat keterbukaan diri dari klien dan kesensitifan satu sama lain.
 Integrasi pribadi
 Persetujuan bersama, hubungan konseling itu terjadi atas persetujuan bersama. Jika tanpa komitmen bersama, maka konseling akan dirasakan sebagai paksaan oleh klien.
 Kebutuhan, hubungan dan proses konseling akan berhasil mencapai tujuan bila klien datang meminta bantuan atas dasar kebutuhannya.
 Struktur, dalam proses konseling terdapat struktur karena adanya keterlibatan konselor dengan klien.
 Kerjasama, amat diperlukan karena akan mempercepat tujuan konseling.
 Konselor mudah didekati, klien merasa aman.
 Perubahan, tujuan hubungan konseling adalah perubahan positif yang terjadi pada diri klien.

C. MENGEMBANGKAN HUBUNGAN KONSELING

Mengembangkan hubungan konseling adalah upaya konselor untuk meningkatkan keterlibatan dan keterbukaan klien, sehingga akan memperlancar proses konseling dan segera mencapai tujuan konseling yang diinginkan klien atas bantuan konselor. Bentuk utama hubungan ini adalah pertemuan pribadi dengan pribadi yang dilatarbelakangi oleh lingkungan.
Dalam hubungan konseling pada prinsipnya ditekankan bagaimana konselor mengembangkan hubungan konseling yang rapport dan dengan memanfaatkan komunikasi verbal dan nonverbal. Jadi, konseling bukan menomorsatukan masalah klien. Hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor adalah penting sehingga klien akan terbuka dan mau terlibat pembicaraan.

D. MENCIPTAKAN RAPPORT

Rapport adalah hubungan yang ditandai dengan keharmonisan, kesuaian, kecocokan & saling tarik menarik. Rapport dimulai dengan persetujuan, kesejajaran, dan persamaan. Jika sudah terjadi persetujuan dan rasa persamaan, maka timbullah kesukaan terhadap satu sama lain.
Di dalam konseling, seorang konselor harus mampu menciptakan rapport, caranya adalah sebagai berikut ;
 Pribadi konselor harus empati, merasakan apa yang dirasakan klien. Dia juga harus terbuka, menerima tanpa syarat dan mempunyai rasa hormat serta menghargai.
 Konselor harus mampu membaca perilaku nonverbal klien, terutama yang berhubungan dengan bahasa lisannya.
 Adanya rasa kebersamaan, intim, akrab dan minat membantu tanpa pamrih yang artinya ada keikhlasan, kerelaan dan kejujuran pada diri konselor.

E. HUBUNGAN KONSELING DAN KETERLIBATAN KLIEN

Ada beberapa hal yang harus dipelihara dalam hubungan konseling, yaitu ;
1. Kehangatan, artinya konselor membuat situasi hubungan konseling itu demikian hangat dan bersemangat. Kehangatan disebabkan adanya rasa bersahabat, tidak forman, serta membangkitkan semangat dan rasa humor.
2. Hubungan yang empati, artinya konselor merasakan apa yang dirasakan klien dan memahami keadaan diri serta masalah yang dihadapinya.
3. Keterlibatan klien, klien terlihat bersungguh-sungguh mengikuti proses konseling dengan jujur mengemukakan persoalannya, perasaannya dan keinginannya, selanjutnya dia bersemangat mengemukakan ide alternatif dan upaya-upaya.

F. KONSELOR YANG RESISTENSI

Banyak faktor yang menyebabkan resistensi konselor, antara lain;
1. Kecemasan, mungkin dari kekalutan pikiran karena masalah keluarga, pekerjaan dan uang.
2. Konselor yang sedang mengalami frustasi dan konflik.
3. Konselor yang merangkap pejabat, biasanya pemerintah menasehati dan mengatur. Dia melihat hubungan konseling sebagai hubungan atasan dan bawahan.
Komunikasi konselor adalah kapasitas untuk mendengarkan, memberikan perhatian, merasa dan merespon dengan verbal dan nonverbal kepada klien, maka klien akan terbuka dan terlibat dalam pembicaraan, dan menampakkan pada klien bahwa konselor adalah menghampiri, mendengarkan dan merasakan secara akurat.

G. PROSES KONSELING

Menurut Brammer (1979) proses konseling adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi makna bagi para peserta konseling tersebut. Setiap tahapan proses konseling membutuhkan keterampilan-keterampilan khusus, namun keterampilan-keterampilan itu bukan hal yang utama jika hubungan konseling tidak mencapai rapport.
Secara umum, proses konseling dibagi atas 3 tahapan, yaitu;
1. Tahap awal konseling
 Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien
 Memperjelas dan mendefinisikan masalah
 Membuat penafsiran dan penjajakan
 Menegosiasikan kontrak
2. Tahap pertengahan konseling (tahap kerja)
Tujuan tahap ini ;
 Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah, isu dan kepedulian klien lebih jauh.
 Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara
 Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak
3. Tahap akhir konseling (tahap tindakan)
Ditandai dengan ;
 Menurunnya kecemasan klien.
 Adanya perubahan perilaku klien kearah yang lebih positif, sehat dan dinamik.
 Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.
 Terjadinya perubahan sikap positif.
Tujuan tahap ini adalah ;
 Memutuskan perubahan sikap dan perilaku yang memadai.
 Terjadinya transfer of learning pada diri klien.
 Melaksanakan perubahan perilaku.
 Mengakhiri hubungan konseling.
Indikator keberhasilan konseling ;
 Menurunnya kecemasan klien
 Mempunyai rencana hidup yang pragtis, pragmatis dan berguna
 Harus ada perjanjian kapan rencananya akan dilaksanakan, sehingga pada pertemuan berikutnya konselor sudah biasa mengecek hasil pelaksanaan rencananya.

Pertanyaan (?)

Pertanyaan (?)

Karena satu kata itulah aku hidup, untuk mencari dan menemukan pertanyaanku, aku bertanya terhadap pertanyaan …

Siapakah aku ??

Jika hidup ini adalah sebuah sinetron yang kita ciptakan sendiri,maka menjadi siapakah aku? Apakah aku seorang tokoh utama dengan segala kelebihan dan kesabaran. Atau hanyakah seorang tokoh pendamping yang selalu muncul ketika tokoh utama sedang
membutuhkan bantuan dan menghilang dilupakan dalam segmen berikutnya.

Sebagian orang berkata bahwa aku adalah binatang jalang, yang lain berkata aku bukanlah kamu. Tetapi siapakah aku? Di dalam sinetron yang episodenya lebih dari Cinta Fitri maupun Tersanjung ini aku bahkan tidak tahu siapa diriku dan menjadi apa.

Namun sampai saat ini aku bahkan tidak tahu siapa diriku. Jangan kau bertanya tentang peran yang aku raih maupun sinetron yang aku mainkan.Tetapi seseorang pernah bertanya padaku. Jika ini memang sinetron yang aku ciptakan sendiri, maka sinetron macam apakah itu dan mau jadi apa aku. Pertanyaan yang tidak akan dijawab oleh aku, tetapi dijawab oleh ….. ??

Secanggih-canggihnya Robot perlu Remot

Di mana-mana di dunia ini para murid cenderung patuh pada gurunya dan tak berani keluar dari jalur yang sudah dibentuk. Tetapi suatu ketika akan muncul seorang murid yang memandang dari luar “circle” yang berani melawan dan tidak larut dengan kawan-kawannya.

Ia bisa saja dimusuhi dan dianggap “pembangkang” yang harus disingkirkan, tetapi sesungguhnya ia hanyalah seorang change maker belaka.

Tahukah Anda bagaimana sebagian besar ilmu pengetahuan dikembangkan?
Benar ilmu pengetahuan berjalan di atas landasannya sendiri yang disebut metodologi.
Jika ditemui seseorang yang berani tampil dengan gagasan brilian yang berbeda dari para pendahulunya. Umumnya mereka cepat sekali mengurungkan niatnya.

Para penguji “pedalaman” punya tradisi pemikiran yang sudah dibentuk dari literatur ke literatur dan para penerus harus tunduk pada peta yang sudah dibentuk.
Maka setiap orang baru dibabtis setelah memberi tambahan satu jalan seta-pak disamping atau di depan jalan-jalan setapak lain yang sudah lebih dulu ada.

Dengan cara berpikir yang demikian sulit bagi kita melahirkan pemikir-pemikir besar.
Siapa yang keluar siap-siap diterkam dan gagal di tengah jalan.
Manusia cenderung menjadi statusquo dan terlalu mempercayai jalan-jalan yang telah dibuat oleh para pendahulunya tanpa banyak bertanya.

“ dosen selalu benar dan mahasiswa selalu salah” ini lah filosofi yang terjadi dalam kampus-kampus kita selama ini. Kita hanya belajar untuk menyerap informasi yang ada seperti sebuah gelas yang terus diisi air ampai tumpah-tumpah, hingga terciptanya robot yang pintar yang hanya memiliki ide-ide lembam, walaupun sepintar-pintarnya bahkan secangih-canggihnya robot-robot dia masih terus mememerlukan remot untuk bergerak sesuai keinginan penciptanya.

“Untuk generasi baru indonesia terus berkaryalah, ciptakan perubahan,
dan terus berpikir merdeka

Belajar itu Menyenangkan ?

“Masa sekolah, masa sekolah,

Masa-masa yang penuh aturan

Membaca dan menulis dan berhitung

Diajarkan seirama ketukan tongkat kayu!”

( school days)

Belajar seirama tongkat kayu,,perpaduaan antara rasa sakit dan belajar. Hilanglah rasa gembira dan kebebasan dalam belajar. Sebagai gantinya adalah kekerasan, kekejaman, tekanan, pengurungan, dan dihindarinya kesenangan secara sadar. Dilingkungan kita, perpaduan antara rasa sakit dan belajar pun sangat jelas,seperti peribahasa”tanpa sakit tak ada hasil “ merupakan keyakinan tersembunyi.

“ Kegembiraan, hasrat, dan kreativitas liar harus ditindas dan dijinakan.”

Baik anak-anak maupun orang dewasa dapat belajar paling baik dalam lingkungan yang ditandai dengan adanya minat dan kebahagiaan pribadi,dan bukan dalam lingkungan yang ditandai dengan rasa stres, intimidasi, kebosanan.

Kegembiraan merupakan unsur penting, bahkan rasa gembira itu adalah inti seluruh pembelajaran yang luar biasa.

Banyak sekali yang dapat kita pelajari dari anak kecil, dari hasil penelitian mereka adalah pembelajar paling hebat didunia, sebab mereka belajar dengan penuh kegembiraan.

Oleh sebab itu, jika anda harus mengajarkan mata pelajaran yang kering, membosankan, dan menumpulkan pikiran, tanyalah diri anda sendiri, “bagaimana cara saya mengajarkan ini kepada anak-anak ? Bagaimana saya bisa menjadikan pembelajaran ini pengalaman yang menggembirakan ?”

“pembelajaran yang meningkat terjadi akibat adanya perasaan gembira pada anak-anak maupun orang dewasa”

“Sekolah, boleh dibilang sama dengan pabrik yang membentuk dan mencetak bahan mentah ( anak-anak) menjadi produk untuk memenuhi berbagai tuntutan hidup.”

Anak-anak dengan latar belakang, bakat minat, potensi yang berbeda diajar dengan cara yang sama, anak-anak yang tidak bisa diam dan menurut perintah gurunya dianggap mengalami masalah belajar atau bahkan dianggap menyimpang,, padahal hakikat belajar adalah menggunakan seluruh anggota tubuh secara kesatuan tidak hanya otak saja,,

“Guru biasa hanya mengajar

Guru luar biasa memberi contoh

Guru istimewa memberi teladan”

Pendidikan Cerdas adalah Pendidikan yang Mencerdaskan

Masalah-demi masalah terus melanda bangsa ini, kemiskinan terus merajalela dan korupsi menjadi hal yang lumrah di negeri dengan penduduk terbesar ke empat di muka bumi ini. Yup.. apalagi kalau bukan Indonesia. Banyak kesalahan dan ketidak tentraman terjadi di negeri ini. Keadaan buruk ini jelas berdampak ke bidang pendidikan. Bicara soal pendidikan, makin hari kualitas pendidikan di negeri ini juga semakin buruk dan tak pantas. Kecurangan demi kecurangan terjadi.. bahkan saat ujian nasonal pun sudah muali terjadi aksi “korupsi” oleh manusia yang namanya “pelajar”.

Apa esensi utama dari pendidikan?

Tentunya adalah untuk mencerdaskan manusia. Pendidikan berfungsi untuk meningkatkan martabat manusia dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan menciptakan individu yang berkarakter.
Pertanyaan berikutnya adalah masihkah pendidikan seperti itu?
Begitu sibuknya kita terhadap perilaku dan hasil membuat kita terkadang lupa esensi atau sumber murni darimana perilaku itu muncul. Pendidikan dalam bahasa mudahnya adalah untuk membuat individu yang bodoh menjadi pintar. Namun fenomena saat ini jauh dari sumber murni sebenarnya. Saat ini berbagai institusi pendidikan terlalu berfokus pada hasil hingga melupakan sumbernya. Mulai dari seleksi penerimaan siswa atau mahasiswa baru misalnya, berbagai institusi mencoba mencari bibit-bibit unggul agar nantinya bisa memperoleh hasil yang baik pula. (lebih…)

Teknik Sosiodrama

1. Pengertian sosiodrama

Menurut Winkel (1993) sosiodrama merupakan dramatisasi dari berbagai persoalan yang dapat timbul dalam pergaulan dengan oran-orang lain, termasuk konflik yang sering dialami dalam pergaulan sosial. Menurut Wiryaman (2000 : 1-27) bahwa metode sosiodrama merupakan metode mengajar dengan cara mempertunjukan kepada siswa tentang masalah-masalah , caranya dengan mempertunjukan kepada siswa masalah bimbingan hubungan sosial tersebut didramatisirkan oleh siswa dibawah pimpinan guru. Menurut moreno sosiodrama adalah sekumpulan individu yang memiliki fokus tertentu yang bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan sosial dan trnasformasi konflik antarkelompok (Kellermann, 2007 : 1). (lebih…)

Pengertian Optimisme

1. Pengertian Optimisme

Siswa sebagai remaja dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa yang mandiri. Kehidupan dewasa berbeda dengan remaja. Untuk menjadi orang dewasa, diperlukan berbagai kesiapan. Salah satunya adalah kesiapan mental. Banyak sikap yang perlu dimiliki oleh orang dewasa. Salah satunya adalah optimisme.

Pengertian optimisme dalam kamus besar bahasa indonesia adalah keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menguntungkan. Orang yang memiliki sikap optimisme disebut orang optimis atau dapat diartikan orang yang selalu semangat berpengharapan baik. (lebih…)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.